Martabat Kerja Orang Muda Gereja: Membaca Ekonomi Kreatif OMK dalam Terang Ajaran Sosial Gereja

UnioKeuskupanAtambua.com – Pameran Ekonomi Kreatif OMK se-Dekenat Mena bukan hanya sebuah kegiatan ekonomi. Ia juga merupakan peristiwa iman, budaya, dan kemanusiaan. Di sana, orang muda Gereja tidak hanya menampilkan produk, tetapi juga memperlihatkan kemampuan untuk bekerja, mencipta, berkolaborasi, dan menghadirkan potensi lokal sebagai kekuatan bersama. Karena itu, pameran ini perlu dibaca lebih dalam sebagai ruang pembentukan martabat kerja orang muda.

Ajaran Sosial Gereja menegaskan bahwa kerja memiliki martabat karena manusia yang bekerja memiliki martabat. Kerja bukan sekadar cara mencari uang, melainkan bagian dari panggilan manusia untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah. Melalui kerja, manusia mengolah dunia, mengembangkan diri, melayani sesama, dan membangun kehidupan bersama. Maka, hasil kerja tidak boleh dipandang hanya dari nilai jualnya, tetapi juga dari nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya.

Dalam terang ini, produk-produk unggulan masyarakat yang dipamerkan oleh OMK se-Dekenat Mena harus dilihat sebagai buah martabat kerja. Di balik setiap produk ada manusia yang berusaha. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang dicurahkan, kreativitas yang diasah, dan harapan yang ditanam. Ketika produk itu dihargai, sesungguhnya yang dihargai bukan hanya barangnya, tetapi juga pribadi yang bekerja di baliknya.

Kunjungan Gubernur NTT ke stand Pameran Ekonomi Kreatif OMK menjadi penting karena memberi pengakuan sosial terhadap kerja orang muda dan masyarakat. Ketika Gubernur hadir dari dekat, berdialog dengan para penjaga stand, melihat produk-produk unggulan, dan membeli langsung hasil kerja masyarakat, ia sedang menunjukkan bahwa karya kecil tidak boleh diremehkan. Produk lokal tidak boleh dipandang sebagai usaha pinggiran, tetapi sebagai bagian dari kekuatan ekonomi dan budaya NTT.

Karl Marx pernah menegaskan bahwa kerja adalah cara manusia mengekspresikan diri dan membentuk dunia. Dalam kerja, manusia menunjukkan daya kreatifnya. Namun Marx juga mengingatkan bahwa manusia dapat mengalami keterasingan apabila pekerjaannya hanya diperlakukan sebagai alat produksi tanpa makna. Peringatan ini penting untuk membaca ekonomi kreatif hari ini. Produk masyarakat tidak boleh hanya diperas sebagai komoditas pasar. Para pekerja, pengrajin, petani, pelaku UMKM, dan orang muda kreatif harus tetap dilihat sebagai subjek bermartabat.

Karena itu, program One Village One Product dan One Community One Product perlu diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan produk unggulan, tetapi juga untuk membentuk manusia produktif. Program ini harus membantu masyarakat mengenal potensi diri, mengolah sumber daya lokal, memperkuat keterampilan, menjaga identitas budaya, dan membangun kemandirian ekonomi. Dengan demikian, OVOP tidak hanya melahirkan barang, tetapi juga membentuk karakter kerja.

Di sisi lain, Adam Smith membantu kita memahami pentingnya ruang pertukaran ekonomi. Produk yang baik perlu bertemu dengan pasar. Karya masyarakat perlu menemukan konsumen. Namun pasar yang sehat harus ditopang oleh moralitas: kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kepercayaan. Dalam konteks ini, NTT Mart dapat menjadi ruang penting untuk mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas, asalkan tetap menjaga nilai dasar bahwa ekonomi harus melayani manusia, bukan memperalat manusia.

NTT Mart dapat menjadi wajah konkret keberpihakan terhadap produk lokal. Ia dapat berfungsi sebagai etalase martabat kerja masyarakat NTT. Produk-produk yang lahir dari desa, komunitas, paroki, kelompok OMK, dan pelaku ekonomi kecil memperoleh kesempatan untuk tampil, dikenal, dan dipasarkan. Dengan demikian, NTT Mart tidak hanya menjadi tempat distribusi barang, tetapi juga ruang pengakuan terhadap karya masyarakat.

Dalam konteks Gereja, keterlibatan OMK dalam ekonomi kreatif juga memiliki nilai pastoral. Orang muda tidak hanya dipanggil untuk aktif dalam liturgi dan organisasi, tetapi juga untuk hadir sebagai pelaku perubahan sosial. Mereka dapat menjadi penggerak ekonomi lokal, penjaga budaya, pencipta produk, dan pembangun kemandirian komunitas. Dengan kreativitas dan iman, OMK dapat membuktikan bahwa Gereja hadir bukan hanya di altar, tetapi juga di pasar, kebun, bengkel kerja, ruang produksi, dan stand-stand ekonomi rakyat.

Pada akhirnya, Pameran Ekonomi Kreatif OMK se-Dekenat Mena memperlihatkan bahwa kerja, iman, dan budaya dapat berjalan bersama. Ajaran Sosial Gereja mengingatkan bahwa martabat pekerja harus selalu ditempatkan di atas keuntungan. Levinas mengingatkan bahwa wajah sesama memanggil kita untuk bertanggung jawab. Marx mengingatkan bahwa kerja adalah ekspresi kreatif manusia. Adam Smith mengingatkan bahwa pertukaran ekonomi dapat membangun kesejahteraan bila ditopang moralitas.

Karena itu, kunjungan Gubernur NTT, program One Village One Product, One Community One Product, dan NTT Mart hendaknya dibaca sebagai kesempatan untuk mengangkat martabat kerja masyarakat, terutama orang muda. Ketika orang muda diberi ruang untuk mencipta, Gereja ikut menumbuhkan harapan. Ketika produk lokal diberi panggung, masyarakat ikut dikuatkan. Dan ketika kerja dihargai sebagai martabat, pembangunan menjadi lebih manusiawi.

 

oleh Yudel Neno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *