UnioKeuskupanAtambua.com – Altruisme sebagai Jalan Persaudaraan: Membongkar Racun Egoisme dalam Perjuangan Bersama – oleh Romo Yudel Neno
Persaudaraan tidak pertama-tama dibuktikan melalui kedekatan fisik, kesamaan kelompok, keramahan verbal, atau banyaknya kegiatan yang dilakukan bersama. Persaudaraan menjadi nyata ketika seseorang bersedia keluar dari pusat kepentingan dirinya dan mengambil bagian dalam kebutuhan, kesulitan, serta perjuangan orang lain: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2). Karena itu, salah satu bentuk paling konkret dari persaudaraan adalah sikap altruistik, yakni kesediaan memberikan tenaga, waktu, perhatian, kemampuan, bahkan kenyamanan pribadi demi kebaikan sesama dan kepentingan yang lebih luas: “Janganlah kita mengasihi dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran” (1Yoh. 3:18).
Dalam iman Kristiani, altruisme bukan sekadar kemurahan hati yang lahir dari rasa kasihan sesaat. Altruisme berakar dalam kasih Allah yang memberikan diri-Nya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh. 3:16). Yesus tidak hanya mengajarkan solidaritas, tetapi menghidupinya. Ia hadir di tengah mereka yang lapar, sakit, tersingkir, berdosa, dan dipandang rendah oleh masyarakat: “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum” (Mat. 25:35). Ia menyentuh orang kusta, memulihkan martabat perempuan yang dipermalukan, makan bersama para pemungut cukai, membela mereka yang tidak mempunyai suara, membasuh kaki para murid, dan akhirnya menyerahkan diri-Nya di salib: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).
Solidaritas Yesus bukan solidaritas dari kejauhan. Ia tidak sekadar memberikan nasihat kepada mereka yang menderita, tetapi masuk ke dalam penderitaan manusia: “Ia telah memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita” (Mat. 8:17). Inkarnasi menjadi bentuk solidaritas Allah yang paling radikal: Sabda menjadi manusia dan tinggal di antara manusia: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Dalam diri Yesus, Allah tidak mempertahankan jarak aman dari luka dunia, melainkan masuk ke dalam sejarah manusia, memikul kelemahannya, dan membuka jalan keselamatan melalui pemberian diri: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita” (Ibr. 4:15).
Semangat ini ditegaskan oleh Rasul Paulus: “Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4). Nasihat tersebut tidak berdiri sendiri. Paulus segera menghubungkannya dengan cara hidup Kristus, yang tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di salib: “Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba” (Flp. 2:7). Dengan demikian, memperhatikan kepentingan orang lain merupakan bentuk konkret dari spiritualitas kenosis, yakni keberanian mengosongkan ego agar kehidupan bersama memperoleh ruang untuk bertumbuh: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mrk. 10:45).
Akan tetapi, semangat altruistik sering tidak berkembang karena manusia terperangkap dalam berbagai kecenderungan psikologis dan karakter yang merusak persaudaraan. Salah satunya adalah kebiasaan meremehkan orang lain. Dalam psikologi, kecenderungan ini dapat disebut sebagai devaluasi interpersonal, yaitu pola memandang rendah nilai, kemampuan, sumbangan, atau martabat orang lain. Devaluasi sering muncul bersamaan dengan downward social comparison, yakni usaha membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih rendah agar seseorang merasa lebih unggul: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Luk. 18:14).
Seseorang dapat meremehkan orang lain karena mengalami rasa tidak aman, harga diri yang rapuh, kebutuhan untuk diakui, persaingan tersembunyi, kecemburuan, atau ketakutan kehilangan pengaruh. Dalam situasi demikian, kekurangan orang lain dibesar-besarkan, sedangkan kelebihannya diperkecil atau diabaikan. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai saudara dan rekan seperjalanan, tetapi sebagai ancaman terhadap kedudukan, citra, dan kepentingan diri. Pola ini tampak dalam diri Saul ketika keberhasilan Daud dipandang sebagai ancaman: “Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud” (1Sam. 18:9).
Dampaknya bagi persaudaraan sangat serius. Sikap meremehkan menghancurkan rasa saling percaya, melumpuhkan partisipasi, menumbuhkan luka batin, dan menciptakan jarak psikologis. Orang yang terus diremehkan dapat kehilangan keberanian untuk berbicara, mengambil tanggung jawab, atau memberikan gagasan. Persaudaraan kemudian hanya menjadi bahasa seremonial, sedangkan kehidupan bersama digerakkan oleh kecurigaan, dominasi, dan persaingan: “Jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan” (Gal. 5:15).
Altruisme juga terhalang oleh menguatnya ego individualistik. Dalam psikologi, kecenderungan ini dapat dijelaskan melalui konsep egosentrisme, yaitu ketidakmampuan atau ketidakmauan melihat keadaan dari perspektif orang lain. Dalam bentuk yang lebih sosial, kecenderungan tersebut berkembang menjadi self-interest orientation, yakni orientasi yang menilai setiap tindakan terutama berdasarkan keuntungan pribadi: “Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain” (1Kor. 10:24).
Orang dengan orientasi demikian akan bertanya: “Apa manfaatnya bagi saya?”, bukan: “Apa yang dapat saya sumbangkan bagi kebaikan bersama?” Pengorbanan dianggap sebagai kerugian. Keterlibatan dinilai sebagai pemborosan energi. Perhatian kepada kebutuhan umum dipandang tidak produktif karena hasilnya tidak langsung kembali kepada diri sendiri. Mentalitas ini menyerupai orang kaya yang hanya memikirkan penimbunan bagi dirinya: “Jiwa, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya” (Luk. 12:19).
Mentalitas ini berdekatan dengan psychological entitlement, yaitu perasaan bahwa seseorang berhak menerima perhatian, pelayanan, penghargaan, atau kemudahan tanpa merasa berkewajiban memberikan kontribusi yang sepadan. Ia ingin menikmati hasil kebersamaan, tetapi enggan mengambil bagian dalam beban bersama. Dalam ilmu sosial, pola demikian disebut pula sebagai free-rider mentality, mentalitas penumpang gratis: seseorang menikmati manfaat yang dihasilkan kelompok, tetapi membiarkan orang lain menanggung tenaga, waktu, biaya, dan tanggung jawabnya. Terhadap mentalitas demikian, Paulus berkata dengan tegas: “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2Tes. 3:10).
Dalam terang iman, anggapan bahwa berkorban demi kepentingan umum merupakan tindakan membuang energi jelas bertentangan dengan logika Injil. Energi yang diberikan untuk kebaikan bersama bukan energi yang hilang, melainkan energi yang diubah menjadi kehidupan, harapan, dan solidaritas. Sebutir gandum yang tidak jatuh dan mati akan tetap satu biji; tetapi apabila mati, ia menghasilkan banyak buah: “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja” (Yoh. 12:24). Pengorbanan Kristiani bukan kesia-siaan, melainkan daya yang menyuburkan persekutuan: “Jerih payahmu tidak sia-sia dalam persekutuan dengan Tuhan” (1Kor. 15:58).
Penghambat lain ialah mental baku harap, yakni kecenderungan saling menunggu dan saling mengharapkan pihak lain bertindak terlebih dahulu. Dalam psikologi sosial, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep diffusion of responsibility, yaitu penyebaran tanggung jawab. Ketika banyak orang berada dalam satu kelompok, setiap orang merasa bahwa orang lainlah yang akan mengambil tindakan. Akibatnya, tidak seorang pun sungguh-sungguh bertindak. Sikap ini berlawanan dengan orang Samaria yang tidak menunggu orang lain, tetapi “pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya” (Luk. 10:34).
Mental baku harap dapat pula berkembang menjadi social loafing, yaitu kecenderungan mengurangi usaha ketika bekerja dalam kelompok karena merasa kontribusi pribadi tidak mudah diukur. Orang hadir, tetapi tidak sungguh bekerja. Ia tercatat sebagai bagian dari kelompok, tetapi tanggung jawab konkret diserahkan kepada orang lain. Ia menunggu perintah, menunggu inisiatif, menunggu fasilitas, bahkan menunggu sampai orang lain kelelahan. Kitab Amsal memperingatkan sikap demikian: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Ams. 6:6).
Mentalitas ini menyebabkan kelalaian tugas. Padahal, justru dalam pelaksanaan tugas, kepedulian terhadap kepentingan bersama menjadi paling nyata. Persaudaraan tidak bertumbuh hanya melalui ungkapan “kita bersaudara”, tetapi melalui kesediaan membersihkan ruang bersama, menyelesaikan pekerjaan, menolong yang kewalahan, menepati kesepakatan, dan bertanggung jawab atas bagian yang dipercayakan: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Tugas yang dilalaikan seseorang hampir selalu berubah menjadi beban tambahan bagi orang lain. Karena itu, kelalaian bukan persoalan pribadi semata, melainkan tindakan yang mempunyai akibat sosial: “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (1Kor. 12:26).
Persaudaraan juga melemah ketika orang tidak memiliki spirit kerja sama. Ironisnya, kerja sama terkadang dibaca sebagai kewajiban untuk manut kepada satu kehendak. Dalam mentalitas seperti ini, kesatuan dipahami sebagai keseragaman, loyalitas diukur dari kepatuhan tanpa kritik, dan perbedaan pendapat dianggap sebagai perlawanan. Padahal, Paulus menegaskan: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh” (1Kor. 12:4).
Secara psikologis, pola ini dapat disebut authoritarian mentality, yaitu cara berpikir yang menempatkan ketaatan kepada figur atau kehendak tertentu di atas dialog, pertimbangan rasional, dan tanggung jawab bersama. Ia juga berhubungan dengan dogmatisme psikologis, yakni kekakuan dalam mempertahankan keyakinan atau keputusan sambil menutup diri terhadap informasi dan sudut pandang lain. Mentalitas demikian bertentangan dengan pola kepemimpinan Yesus: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 20:26).
Istilah “bigot” menunjuk pada orang yang melekat secara sempit dan fanatik pada pandangannya sendiri serta menunjukkan intoleransi terhadap perbedaan. Mentalitas bigot bukanlah keteguhan prinsip. Keteguhan prinsip tetap dapat berdialog, membedakan yang hakiki dan yang teknis, serta mengakui kemungkinan koreksi. Sebaliknya, bigotisme membangun benteng ego dan memandang setiap perbedaan sebagai ancaman. Yesus mengoreksi sikap eksklusif para murid dengan berkata: “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita” (Mrk. 9:40).
Kerja sama yang sejati tidak berarti bahwa semua orang kehilangan pikiran dan kehendaknya. Kerja sama adalah kemampuan menyelaraskan perbedaan menuju tujuan bersama. Di dalamnya terdapat dialog, pembagian peran, koreksi, kepercayaan, dan kesediaan untuk mengalah dalam perkara yang tidak prinsipial. Pemimpin tidak memonopoli gagasan, sedangkan anggota tidak melepaskan tanggung jawab. Semua berjalan dalam semangat partisipasi: “Tiap-tiap anggota menerima karunia yang berbeda-beda menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita” (Rm. 12:6).
Altruisme juga sulit berkembang ketika seseorang tidak mau mengakui kelebihan orang lain. Secara psikologis, kecenderungan ini berkaitan dengan envy, yakni rasa tidak nyaman ketika melihat kualitas, keberhasilan, atau penerimaan yang diperoleh orang lain. Dalam bentuk tertentu, hal tersebut dapat berkembang menjadi narcissistic rivalry, yaitu dorongan mempertahankan superioritas diri dengan merendahkan, menyaingi, atau menghalangi orang lain. Kitab Suci menunjukkan bahwa iri hati dapat berujung pada tindakan destruktif: “Kain menjadi sangat marah, dan mukanya muram” (Kej. 4:5).
Orang seperti ini tidak selalu menyerang secara terbuka. Ia dapat menunjukkan antipati melalui sikap dingin, komentar sinis, penundaan dukungan, pengabaian kontribusi, atau ketidakhadiran yang disengaja. Ia tidak rela mendukung sebuah kepentingan umum apabila keberhasilan itu membuat orang lain memperoleh penghargaan. Akibatnya, tujuan bersama dikorbankan demi persaingan pribadi. Paulus menyebut adanya orang-orang yang bekerja “karena dengki dan perselisihan” (Flp. 1:15).
Padahal, kemampuan mengakui kelebihan orang lain merupakan tanda kematangan. Dalam tubuh Kristus, tidak semua anggota mempunyai fungsi yang sama. Mata tidak dapat berkata kepada tangan bahwa ia tidak membutuhkan tangan: “Mata tidak dapat berkata kepada tangan: Aku tidak membutuhkan engkau” (1Kor. 12:21). Setiap karunia diberikan bukan untuk membangun kemegahan pribadi, tetapi untuk melayani kehidupan seluruh tubuh: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang” (1Ptr. 4:10). Mengakui karunia orang lain bukan berarti merendahkan diri sendiri, melainkan menyadari bahwa karya bersama selalu lebih luas daripada kemampuan satu orang.
Hambatan berikutnya adalah ketiadaan cara berpikir yang menyelaras. Orang tidak memiliki kemauan dan kecakapan komparatif untuk membandingkan gagasan, membaca konteks, menemukan titik temu, dan menilai sesuatu dari lebih dari satu perspektif. Dalam psikologi, kelemahan ini dapat disebut cognitive rigidity, yaitu kekakuan kognitif, ketidakmampuan menyesuaikan cara berpikir ketika berhadapan dengan informasi, situasi, atau kebutuhan baru. Kitab Suci menggambarkan kekakuan demikian sebagai sikap “keras kepala dan keras hati” (Kis. 7:51).
Kekakuan ini sering diperkuat oleh egocentric bias, kecenderungan menganggap perspektif diri sebagai perspektif yang paling wajar dan benar, serta confirmation bias, yakni kecenderungan hanya menerima informasi yang menguatkan keyakinan sendiri. Akibatnya, sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi mudah diberi label “tidak penting”. Penilaian tidak lagi didasarkan pada kebutuhan bersama, melainkan pada kedekatan dengan cara berpikir sendiri. Kitab Amsal mengingatkan: “Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri” (Ams. 21:2).
Orang yang matang tidak harus menyetujui semua gagasan, tetapi ia harus mampu memahami alasan di balik sebuah gagasan. Ia membandingkan manfaat, risiko, kebutuhan, dan konteks. Ia tidak tergesa-gesa meremehkan sesuatu hanya karena bukan dirinya yang mencetuskan atau karena bentuknya tidak sesuai dengan kebiasaannya: “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1Tes. 5:21).
Semangat bersama juga dapat runtuh ketika seseorang tidak memiliki daya tahan terhadap komentar miring. Secara psikologis, hal ini dapat dikaitkan dengan low psychological resilience, yakni rendahnya daya lenting dalam menghadapi tekanan, kritik, cibiran, atau kegagalan. Ia juga dapat berhubungan dengan rejection sensitivity, yaitu kepekaan berlebihan terhadap kemungkinan ditolak atau dinilai negatif. Iman justru membentuk ketekunan melalui tekanan: “Kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan” (Rm. 5:3).
Orang yang tidak tahan terhadap komentar miring mudah kehilangan semangat, membatalkan keterlibatan, atau mengubah keputusan hanya karena sindiran beberapa pihak. Ia menyerahkan arah tindakannya kepada suara-suara negatif. Padahal, perjuangan bagi kepentingan umum hampir selalu berhadapan dengan kritik, kesalahpahaman, dan komentar yang melemahkan. Daya tahan psikologis dibutuhkan agar seseorang dapat membedakan kritik yang membangun dari cibiran yang hanya ingin melumpuhkan. Nehemia menunjukkan keteguhan demikian dengan berkata: “Aku tengah melakukan suatu pekerjaan yang besar. Aku tidak bisa datang!” (Neh. 6:3).
Di sisi lain, orang juga dapat gagal membangun persaudaraan karena tidak rendah hati mendengarkan masukan. Sikap ini berkaitan dengan defensive ego, yakni kecenderungan mempertahankan citra diri dengan menyangkal kesalahan, menolak kritik, atau menyerang pemberi masukan. Ia dapat pula dipengaruhi oleh self-serving bias, kecenderungan menghubungkan keberhasilan dengan kemampuan diri, tetapi menyalahkan orang lain atau situasi ketika mengalami kegagalan. Sikap menyalahkan pihak lain telah tampak sejak manusia pertama berkata: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku” (Kej. 3:12).
Kerendahan hati bukan sikap merasa diri tidak bernilai. Kerendahan hati adalah keberanian melihat diri secara jujur. Orang rendah hati menyadari bahwa ia mempunyai kemampuan, tetapi juga keterbatasan; mempunyai pengalaman, tetapi tetap dapat keliru; mempunyai kewenangan, tetapi tetap membutuhkan koreksi. Mendengarkan kritik bukan tanda kehilangan martabat, melainkan bukti bahwa seseorang lebih mencintai kebenaran daripada citra dirinya sendiri: “Hendaklah setiap orang cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yak. 1:19).
Persaudaraan semakin teracuni ketika kehidupan bersama terjebak dalam pola pergaulan nepotis dan permisif. Nepotisme bertumbuh dari in-group bias, yakni kecenderungan memberikan penilaian, perlakuan, dan kesempatan yang lebih baik kepada orang yang dianggap bagian dari kelompok sendiri. Dalam pola ini, kedekatan lebih menentukan daripada kompetensi, loyalitas pribadi lebih dihargai daripada integritas, dan kesalahan orang dekat ditoleransi sementara kekeliruan pihak lain diperbesar. Kitab Suci melarang perlakuan demikian: “Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar” (Im. 19:15).
Permisivisme terjadi ketika kelompok membiarkan penyimpangan, kelalaian, atau ketidakadilan demi menjaga kenyamanan semu. Hal ini dapat berkembang menjadi groupthink, yaitu keadaan ketika keinginan menjaga kekompakan membuat kelompok kehilangan daya kritis. Orang takut menyampaikan keberatan karena tidak ingin dianggap merusak persatuan. Akibatnya, persaudaraan berubah menjadi persekongkolan kenyamanan. Paulus menunjukkan bahwa persatuan sejati tidak meniadakan koreksi ketika ia berkata: “Aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah” (Gal. 2:11).
Mental dan karakter seperti ini layak disebut racun bagi persaudaraan karena bekerja perlahan, merusak dari dalam, dan sering bersembunyi di balik kata-kata yang tampak baik. Sikap meremehkan membunuh martabat. Ego individualistik memutus solidaritas. Mental baku harap melumpuhkan tanggung jawab. Bigotisme mematikan dialog. Kecemburuan menghancurkan penghargaan. Kekakuan berpikir menghalangi penyelarasan. Kerapuhan terhadap komentar melemahkan ketekunan. Ego defensif menutup pintu pembaruan. Nepotisme dan permisivisme merusak keadilan. Semuanya merupakan “perbuatan daging” yang antara lain tampak dalam “perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan dan roh pemecah” (Gal. 5:20).
Semua itu beracun karena menggeser pusat kehidupan bersama: dari kepentingan umum menuju kepentingan diri, dari pelayanan menuju penguasaan, dari penghargaan menuju persaingan, dari tanggung jawab menuju saling menunggu, dan dari kebenaran menuju kenyamanan kelompok. Padahal, kasih “tidak mencari keuntungan diri sendiri” (1Kor. 13:5).
Karena itu, altruisme perlu dibangun sebagai spiritualitas, karakter, dan kebiasaan. Ia harus dilatih melalui kesediaan mengambil tugas tanpa selalu menunggu, mengakui kelebihan orang lain, mendengarkan kritik, membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, bekerja tanpa haus pengakuan, serta bertahan dalam kebaikan sekalipun berhadapan dengan komentar miring: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik” (Gal. 6:9).
Pada akhirnya, persaudaraan bukan keadaan yang tercipta dengan sendirinya. Persaudaraan adalah buah dari pertobatan ego. Ia tumbuh ketika manusia berani berkata: tidak semua harus berpusat pada saya; tidak semua harus sesuai dengan kehendak saya; tidak semua keberhasilan harus membawa nama saya; dan tidak semua pengorbanan harus langsung memberi keuntungan kepada saya. Sikap ini sejalan dengan perkataan Yohanes Pembaptis: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3:30).
Di situlah nasihat Paulus memperoleh maknanya yang paling konkret: jangan hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Kata “juga” tidak menghapus tanggung jawab terhadap diri sendiri, tetapi menolak menjadikan diri sebagai satu-satunya pusat perhatian. Altruisme Kristiani bukan penghancuran diri, melainkan perluasan diri—dari “aku” yang tertutup menuju “kita” yang saling menanggung: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu” (Gal. 6:2).
Persaudaraan mencapai bentuknya yang paling nyata ketika seseorang bersedia memberikan dirinya agar orang lain dapat berdiri, komunitas dapat bergerak, tugas dapat diselesaikan, dan kepentingan bersama dapat diperjuangkan. Dalam sikap itulah solidaritas Yesus menjadi hidup kembali: bukan hanya dikagumi sebagai ajaran, tetapi diwujudkan sebagai cara berada bersama sesama: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34).

