UnioKeuskupanAtambua.com – Para Imam Projo Keuskupan Atambua – Kamis, Pekan Biasa XVII
Bacaan I: Yeremia 18:1–6 – Injil: Matius 13:47–53
Pendahuluan
“Bangkitlah dan pergilah ke rumah tukang periuk; di sanalah Aku akan memperdengarkan firman-Ku kepadamu.” (Yer. 18:2)
Saudara-saudara Imam yang terkasih!
Hari ini kita tidak sedang menutup sebuah kegiatan. Kita sedang membuka kembali sebuah perutusan.
Beberapa hari ini kita hidup sebagai saudara. Kita berdoa bersama, makan bersama, tertawa bersama, berolahraga bersama, berbagi cerita, bahkan mungkin saling membuka luka dan pergumulan pelayanan.
Sebentar lagi tenda-tenda akan dibongkar. Api unggun akan padam. Kita akan kembali ke Belu, Malaka, TTU, Kota Atambua, pesisir, pegunungan, desa-desa terpencil, sekolah-sekolah, dan paroki-paroki tempat Tuhan mempercayakan umat-Nya kepada kita.
Namun sebelum kita kembali, Sabda Tuhan mengajukan satu pertanyaan yang sangat mendasar:
“Imam seperti apakah yang akan pulang hari ini?” Apakah kita kembali sebagai imam yang sama seperti ketika datang? Ataukah kita pulang sebagai imam yang hatinya telah disentuh kembali oleh Tuhan?
Imam adalah Tanah Liat yang Tidak Pernah Selesai Dibentuk
Bacaan pertama mengisahkan Nabi Yeremia yang diperintahkan turun ke rumah tukang periuk.
Di sana ia melihat sesuatu yang sederhana.
Tanah liat yang rusak tidak dibuang.
Tukang periuk mengambilnya kembali.
Membasahinya lagi.
Membentuknya lagi.
Mengolahnya lagi.
Sampai menjadi bejana yang indah.
Saudara-saudara Imam!
bukankah kita semua adalah tanah liat itu?
Sering kali kita berpikir bahwa setelah ditahbiskan, proses pembentukan telah selesai.
Padahal justru tahbisan adalah awal pembentukan yang sesungguhnya.
Ada masa ketika pelayanan berjalan lancar.
Ada masa ketika umat memberi dukungan.
Namun ada pula masa ketika kita merasa lelah.
Doa terasa kering.
Kritik datang silih berganti.
Program pastoral tidak berjalan sesuai harapan.
Persaudaraan diuji.
Kesehatan melemah.
Harapan kadang memudar.
Pada saat-saat seperti itu, Tuhan tidak berkata, “Engkau gagal.”
Tuhan berkata:
“Biarkan Aku membentukmu kembali.”
Camp Unio ini sesungguhnya adalah rumah tukang periuk itu.
Selama beberapa hari ini Tuhan sedang menguleni kembali hati kita.
Bukan karena kita imam yang buruk.
Tetapi karena Tuhan ingin kita menjadi imam yang semakin menyerupai Hati Kristus.
Persaudaraan Presbiteral: Rahmat yang Harus Dipelihara
Saudara-saudara!
Ada satu rahmat yang sering kita rindukan, tetapi mudah kita abaikan: persaudaraan.
Dalam pelayanan sehari-hari kita sering sibuk.
Kita berlari dari satu stasi ke stasi lain.
Dari rapat ke rapat.
Dari sekolah ke sekolah.
Dari rumah duka ke altar.
Tanpa sadar, kita bisa menjadi imam yang bekerja sendiri.
Padahal sejak hari tahbisan kita tidak pernah ditahbiskan untuk berjalan sendiri.
Kita ditahbiskan menjadi anggota satu presbiterium.
Persaudaraan bukan tambahan dalam hidup imam.
Persaudaraan adalah bagian dari identitas imam diosesan.
Dokumen Presbyterorum Ordinis mengingatkan bahwa para imam dipersatukan dalam ikatan sakramental dan dipanggil untuk saling menopang dalam kasih persaudaraan.
Camp ini mengingatkan kembali bahwa kita memiliki saudara.
Saudara yang mungkin melayani di paroki lain.
Tetapi memikul salib yang sama.
Saudara yang mungkin memiliki karakter berbeda.
Tetapi menerima tahbisan yang sama.
Saudara yang mungkin memiliki cara pastoral yang berbeda.
Tetapi melayani Tuhan yang sama.
Jangan biarkan jarak geografis memisahkan hati kita.
Keuskupan Atambua akan kuat apabila presbiteriumnya tetap bersatu.
Pukat Kerajaan Allah
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang pukat yang ditebarkan ke laut dan mengumpulkan berbagai jenis ikan.
Gambaran ini sangat indah bagi kehidupan imam.
Paroki yang kita layani tidak pernah terdiri dari umat yang seragam.
Ada yang rajin ke gereja.
Ada yang terluka.
Ada yang jauh dari sakramen.
Ada yang sedang mencari Tuhan.
Ada keluarga yang harmonis.
Ada keluarga yang retak.
Ada kaum muda yang bersemangat.
Ada pula yang kehilangan arah.
Sebagai imam, kita tidak dipanggil memilih ikan yang kita sukai.
Kita dipanggil menebarkan pukat Injil kepada semua.
Kasih pastoral tidak mengenal pilih kasih.
Kristus datang untuk semua.
Demikian pula imam harus memiliki hati yang cukup luas untuk merangkul semua orang.
Mengeluarkan Harta yang Lama dan yang Baru
Yesus menutup Injil dengan sebuah kalimat yang sangat menarik:
“Setiap ahli Taurat yang menjadi murid Kerajaan Surga seumpama seorang tuan rumah yang mengeluarkan dari perbendaharaannya harta yang baru dan yang lama.”
Kalimat ini seperti ditujukan kepada kita.
Imam tidak boleh kehilangan akar.
Tetapi imam juga tidak boleh takut pada pembaruan.
Kita menjaga iman Gereja.
Kita mencintai liturgi.
Kita setia pada ajaran Gereja.
Namun pada saat yang sama kita dipanggil menemukan cara-cara baru untuk mewartakan Injil kepada generasi zaman ini.
Di Keuskupan Atambua, tantangan pastoral berubah.
Kaum muda berubah.
Teknologi berkembang.
Budaya mengalami pergeseran.
Karena itu kita membutuhkan kreativitas pastoral yang lahir dari doa, bukan sekadar mengikuti tren.
Harta yang lama adalah Injil yang tidak berubah.
Harta yang baru adalah cara-cara kreatif menghadirkan Injil kepada manusia zaman ini.
Pulang Sebagai Imam yang Diperbarui
Saudara-saudara imam!
Apa buah Camp Unio ini?
Bukan sekadar foto bersama.
Bukan sekadar pertandingan yang telah selesai.
Bukan sekadar kenangan yang indah.
Buah sejatinya adalah hati yang diperbarui.
Pulanglah sebagai imam yang lebih sabar.
Lebih rendah hati.
Lebih mudah mengampuni.
Lebih tekun berdoa.
Lebih mencintai Ekaristi.
Lebih mencintai umat.
Lebih mencintai saudara imam.
Lebih mencintai Gereja.
Dan lebih mencintai Kristus.
Kalau itu terjadi, Camp ini tidak benar-benar berakhir.
Ia akan terus hidup di setiap altar tempat kita mempersembahkan Ekaristi.
Di setiap pengakuan dosa yang kita layani.
Di setiap rumah umat yang kita kunjungi.
Di setiap anak yang kita baptis.
Di setiap keluarga yang kita damping.
Di setiap orang miskin yang kita hibur.
Penutup
Saudara-saudara yang terkasih!
Hari ini Yeremia mengingatkan kita bahwa kita adalah tanah liat.
Injil mengingatkan kita bahwa kita adalah penjala manusia.
Dan Camp Unio mengingatkan kita bahwa kita adalah saudara.
Maka marilah kita kembali ke tempat perutusan kita dengan hati yang baru.
Jangan takut jika masih ada kelemahan.
Tanah liat tidak pernah malu berada di tangan tukang periuk.
Jangan takut jika pelayanan terasa berat.
Pukat tidak pernah memilih laut yang tenang.
Jangan takut berjalan sendiri.
Karena sesungguhnya kita tidak pernah sendiri.
Kristus, Sang Gembala Agung, berjalan di depan kita.
Ia yang memanggil, akan tetap membentuk.
Ia yang membentuk, akan tetap menguatkan.
Ia yang mengutus, akan tetap menyertai.
Semoga ketika umat melihat kita kembali ke paroki masing-masing, mereka dapat merasakan bahwa para imam mereka pulang bukan hanya membawa kenangan dari sebuah camp, tetapi membawa hati Kristus yang semakin hidup dalam diri mereka.
Marilah kita saling mendoakan.
Marilah kita menjaga persaudaraan ini.
Dan marilah kita terus melayani dengan sukacita, sampai pada hari ketika Sang Gembala Agung berkata kepada kita:
“Baik sekali perbuatanmu itu, hambaku yang baik dan setia.” Amin.

