Ketua Unio Indonesia: Imam Diosesan Harus Menjadi Jembatan Dialog di Era Digital

PEMATANGSIANTAR – UnioKeuskupanAtambua.com – Ketua Unio Indonesia RD Florens Maxi Un Bria mengingatkan para imam diosesan untuk tidak berjalan sendiri-sendiri menghadapi perubahan zaman. Para imam diajak membangun dialog, bersinergi, dan menghadirkan pelayanan yang menggembirakan serta menumbuhkan pengharapan.

Pesan tersebut disampaikan Florens dalam pembukaan Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia di Catholic Center–Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan, Pematangsiantar, Senin (14/9/2026).

Ia mengawali sambutannya dengan ungkapan syukur kepada Tuhan karena para imam dari berbagai daerah dapat berkumpul kembali dalam pertemuan nasional tersebut.

Menurut Florens, perjumpaan fisik mempunyai makna penting ketika kehidupan manusia saat ini semakin banyak dibentuk oleh relasi digital.

Dunia digital memang membuka kemungkinan besar bagi komunikasi dan pewartaan. Namun, ruang yang sama juga dapat melahirkan fragmentasi dan perpecahan.

Karena itulah Munas XV mengangkat tema “Imam Diosesan: Menjadi Rasul Spiritualitas di Era Digital.”

Bagi Florens, tantangan digital menuntut imam tidak hanya terampil menggunakan teknologi, tetapi memiliki kedalaman spiritual yang membuat teknologi benar-benar dipakai untuk membangun manusia.

Para imam, lanjut dia, dipanggil menjadi jembatan dialog.

Dialog tersebut dibutuhkan dalam relasi dengan umat, antarimam, dengan para uskup, maupun di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki banyak perbedaan.

Ia juga menyebut adanya dukungan dari perwakilan Takhta Suci di Indonesia terhadap penyelenggaraan Munas, termasuk rencana kehadiran Nunsiatur Apostolik dalam rangkaian kegiatan.

Di tengah penekanan pada spiritualitas dan dialog, Florens mengingatkan kembali hakikat dasar Unio melalui ungkapan:

“Priest helping priest.” – Imam membantu imam. Bagi dia, ungkapan sederhana tersebut merupakan inti kehidupan Unio.

Persaudaraan imam tidak hanya dibutuhkan ketika semuanya berjalan baik. Persaudaraan justru diuji ketika seorang imam mengalami kesulitan, kelelahan, krisis, atau membutuhkan teman perjalanan. Karena itu, semangat sinodalitas menjadi penting.

Sinodalitas, menurut RD. Florens, menunjukkan bahwa Gereja tidak dibangun dengan berjalan sendiri-sendiri. Para imam diosesan perlu berjalan bergandengan tangan, bersinergi, dan berkolaborasi.

Sinergi tersebut diarahkan untuk menghadirkan pelayanan pastoral yang menggembirakan dan menumbuhkan iman yang penuh pengharapan.

Ia juga menyinggung pembinaan lanjut atau ongoing formation yang dijalankan di tingkat keuskupan.

Pembinaan tersebut diharapkan semakin menguatkan kerja sama imam dengan para uskup sebagai gembala Gereja partikular.

Pada akhirnya, kata dia, penyelenggaraan Munas XV merupakan tanda bahwa para imam diosesan membutuhkan satu sama lain.

Karena itu, salah satu pesan paling mendasar dari pertemuan tersebut ialah: para imam perlu bersaudara dan harus terus bersaudara.

oleh Yudel Neno, Pr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *