Menjadi Imam dengan Spiritualitas Duc in Altum; Dari Perahu menuju Mimbar dalam Transformasi Kesadaran dari Guru menuju Tuhan

UnioKeuskupanAtambua.com – Menjadi Imam dengan Spiritualitas Duc in Altum; Dari Perahu menuju Mimbar dalam Transformasi Kesadaran dari Guru menuju Tuhan – Oleh Romo Yudel Neno

Rm. Sipri Senda – Pembimbing Ret-Ret

Renungan IV yang disampaikan Romo Sipri Senda, Pr., pada Selasa, 13 Oktober 2026, mengajak 34 peserta retret imam projo Keuskupan Atambua memperdalam panggilan melalui Lukas 5:1–11. Dalam retret yang berlangsung sejak Minggu, 11 Oktober hingga Sabtu, 17 Oktober 2026 ini, pengalaman Petrus menjadi cermin untuk memeriksa kesadaran imamat. Permenungan berikut bertolak dari materi tersebut: bagaimana seorang imam membiarkan Kristus memasuki ruang kehidupannya, mengubah orientasi pelayanannya, dan menuntunnya dari kepercayaan pada kecakapan menuju penyerahan iman.

Kisah panggilan Petrus dimulai dalam keseharian seorang nelayan. Perahu, jala, kelelahan, dan kegagalan merupakan kenyataan konkret kehidupannya. Justru di sanalah Yesus hadir. Panggilan tumbuh ketika pekerjaan manusia disentuh oleh kehendak Allah. Sebelum Petrus diminta meninggalkan segala sesuatu, ia terlebih dahulu diminta menyediakan sesuatu yang dimilikinya. Kesediaannya memberikan perahu menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih mendalam: dari menyediakan sarana bagi Yesus menuju menyerahkan dirinya kepada Yesus.

Pada perahu yang sama terlihat kontras fungsional. Bagi Petrus, perahu merupakan sarana menangkap ikan untuk menopang kehidupan. Yesus menggunakannya sebagai tempat mengajar orang banyak. Ruang pekerjaan menjadi ruang pewartaan; sarana mata pencaharian memperoleh fungsi sebagai mimbar Sabda. Perubahan ini tidak merendahkan pekerjaan nelayan. Sebaliknya, kehidupan sehari-hari diperlihatkan sebagai tempat yang dapat menampung karya keselamatan. Secara reflektif dapat dikatakan: melalui perahu milik Petrus, Yesus menjangkau orang banyak sekaligus memanggil pemiliknya memasuki perutusan.

Sesudah mengajar, Yesus meminta Petrus bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala. Tanggapan Petrus mempertemukan pengalaman dengan kepercayaan. Ia menyatakan bahwa kerja sepanjang malam tidak menghasilkan tangkapan, tetapi kemudian bersedia bertindak berdasarkan perkataan Yesus. Karena itu, tanggapannya tidak tepat dipahami semata-mata sebagai penolakan. Ada keletihan dan keberatan yang masuk akal, sekaligus keterbukaan untuk melampaui kesimpulan pengalaman. Iman mulai bekerja ketika manusia tetap bersedia mendengarkan di tengah alasan untuk menyerah.

Di sini kecakapan Petrus menemukan batasnya. Keterampilan tetap diperlukan, tetapi tidak dapat dijadikan ukuran tunggal bagi kemungkinan karya Allah. Bagi seorang imam, pengalaman pastoral dapat menumbuhkan kebijaksanaan, namun juga berpotensi membentuk keyakinan bahwa segala sesuatu sudah diketahui. Ungkapan bahwa suatu cara selalu gagal dapat berubah menjadi pembenaran untuk berhenti mencoba. Petrus menunjukkan kemungkinan lain: membawa pengalaman kepada Tuhan sambil membiarkan Sabda mengoreksi kesimpulan yang terasa paling meyakinkan.

Hasil tangkapan kemudian melampaui dugaan. Lukas menyebut jala mulai koyak dan kedua perahu begitu penuh sehingga hampir tenggelam. Kelimpahan itu juga mengharuskan mereka meminta bantuan rekan-rekan. Dengan demikian, pengalaman rahmat membuka ruang kerja sama. Dalam pembacaan pastoral, keberhasilan tidak memberi alasan bagi seorang imam untuk menguasai semuanya sendiri. Karunia yang diterima justru menuntut kesediaan berbagi tanggung jawab, mengakui keterbatasan, dan melibatkan sesama dalam pelayanan.

Puncak peristiwa terletak pada perubahan sikap Petrus. Sapaan “Guru” berkembang menjadi “Tuhan”, disertai pengakuan akan keberdosaannya. Peralihan ini menandai pendalaman pengenalan terhadap Yesus, meskipun belum berarti seluruh perjalanan imannya selesai. Di hadapan kuasa yang dialaminya, Petrus mengenali keterbatasan dirinya. Kesadaran akan dosa lahir dalam perjumpaan dengan kekudusan. Ia menemukan bahwa keberhasilannya tidak cukup dijelaskan oleh kemampuan pribadi, dan bahwa Pribadi di hadapannya layak menerima penyerahan yang lebih dalam.

Jawaban Yesus mengarahkan kesadaran itu kepada panggilan. Petrus tidak dibiarkan terkurung dalam ketakutan atau rasa tidak layak. Ia dipercayakan tugas menjala manusia. Secara teologis, pengakuan kelemahan menjadi awal keterbukaan terhadap rahmat yang mengutus. Seorang imam pun perlu mengakui kekurangan tanpa menjadikannya alasan untuk membatalkan pelayanan. Kerendahan hati bertumbuh ketika orang bersedia dibentuk, menerima pendampingan, memperbaiki kesalahan, dan menjalankan tanggung jawab dengan kesadaran bahwa kekuatannya bersumber pada Tuhan.

Perintah *duc in altum* pertama-tama menunjuk tindakan konkret menuju perairan dalam. Dalam permenungan rohani, gerakan tersebut dapat dibaca sebagai undangan memasuki kedalaman relasi dengan Allah. Pemaknaan ini berkembang dari keseluruhan kisah: perjalanan mencari ikan bermuara pada perubahan arah hidup. Kelimpahan tangkapan bukan tujuan terakhir, sebab para murid akhirnya meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Kedalaman sejati tampak ketika manusia bersedia mengubah orientasi, termasuk setelah mengalami keberhasilan.

Perjalanan Petrus selanjutnya memperlihatkan bahwa panggilan tidak menghapus kerapuhan secara otomatis. Ia bahkan menyangkal Yesus. Namun, kegagalan itu tidak menjadi kata terakhir mengenai dirinya. Dalam Yohanes 20:3–8, murid yang dikasihi tiba lebih dahulu di kubur, sedangkan Petrus masuk terlebih dahulu. Peristiwa ini dapat direnungkan dalam kaitannya dengan peran Petrus di tengah para murid. Di sini juga terjadi suatu gerakan kesadaran antar sesama murid dan terhadap posisi Petrus. Petrus tetapi memiliki peran dalam relasi kemuridan, walaupun baru saja ia sangkal Yesus.

Bertolak dari pengalaman tersebut, ajakan Romo Sipri menyentuh persoalan pastoral yang nyata. Kedangkalan rohani muncul ketika doa kehilangan ruang dan Sabda hanya dibaca untuk menyiapkan khotbah. Kedangkalan berpikir berkembang ketika persoalan umat segera dijawab dengan rumusan yang belum menyentuh pengalaman mereka. Egoisme kepemimpinan menguat ketika imam sulit menerima masukan dan mengukur keberhasilan berdasarkan pengaruh pribadi. Menghadapinya memerlukan kebiasaan berefleksi, belajar, menerima koreksi, serta mengevaluasi pelayanan bersama umat.

Tantangan lain ialah ketakutan mengambil risiko, kenyamanan semu, dan keputusasaan. Ketiganya dapat membuat pelayanan berputar dalam rutinitas. Imam tetap sibuk, tetapi enggan mengunjungi luka yang sulit, membuka percakapan yang menegangkan, atau meninjau cara kerja yang kurang tepat. Spiritualitas kedalaman mengundang keberanian yang disertai pertimbangan. Tantangan perlu dihadapi dengan doa, persiapan, dan kerja sama, sehingga kesulitan menjadi kesempatan bertumbuh dalam kesetiaan dan kecakapan melayani.

Di ruang digital, godaan kedangkalan memperoleh bentuk lain. Popularitas dapat menggeser substansi, viralitas mendahului kebenaran, kecepatan mengabaikan ketepatan, dan jumlah penonton menggantikan kedalaman. Kebiasaan membagikan informasi tanpa seleksi serta berkomentar tanpa pertimbangan nurani memperbesar persoalan. Imam dipanggil menggunakan media dengan tanggung jawab: memeriksa informasi, menghormati martabat manusia, dan menghadirkan pesan yang menolong umat berpikir serta beriman. Kehadiran digital perlu bertumbuh dari kehidupan rohani yang sungguh dirawat.

Karena itu, transformasi menuntut olah Sabda yang konsisten, perubahan paradigma, dan pastoral mendengarkan. Mendengarkan umat berarti menyediakan perhatian sebelum memberikan penilaian. Romo Sipri mengingatkan bahwa dalam rasa aman palsu “tidak ada gerakan tetapi hanya gerak-gerik”. Kesibukan memerlukan arah pembaruan yang nyata. Menjadi imam dengan spiritualitas *duc in altum* berarti menyerahkan perahu kehidupan agar menjadi mimbar kasih Allah, membiarkan pengenalan akan Guru bertumbuh menjadi penyerahan kepada Tuhan, serta menghadapi tantangan sebagai kesempatan berkembang dalam perutusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *