Refleksi Romantis – UnioKeuskupanAtambua.com – Ketika Danau Menyimpan Cerita dan Persaudaraan Menemukan Rumah – Oleh: Romo Yudel Neno, Pr
(Sepenggal Romantisme dari Munas XV Unio Indonesia)
Ada perjalanan yang selesai ketika kaki tiba di tujuan, ada perjalanan yang berakhir ketika kapal merapat di pelabuhan, tetapi ada pula perjalanan yang justru baru dimulai ketika semuanya selesai karena jejaknya terlanjur tinggal di hati, dan Musyawarah Nasional XV Unio Indonesia di Pematangsiantar adalah perjalanan jenis terakhir itu, sebuah perjalanan yang bermula sebagai agenda, bertumbuh menjadi perjumpaan, lalu bermuara sebagai kenangan, ketika jalur darat dan air, ruang sidang dan kamar makan, lorong penginapan dan altar, kapal penyeberangan dan tepian Danau Toba perlahan-lahan menjelma menjadi halaman-halaman sebuah buku persaudaraan yang tidak seluruhnya dapat ditulis tetapi cukup kuat untuk dikenang.
Sejak tiba di Siantar, logat khas Batak yang tegas tetapi hangat segera menyapa telinga, masakan dengan cita rasa pedas seperti berlomba memperkenalkan dirinya kepada lidah, dan dalam waktu sesingkat-singkatnya suasana itu menyatu begitu saja dengan cita rasa para peserta Munas, seolah Pematangsiantar tidak memberi banyak kesempatan kepada siapa pun untuk merasa asing, sebab sapaan yang mula-mula terdengar baru perlahan menjadi akrab, nama-nama mulai dipertukarkan, keuskupan asal mulai disebutkan, dan perjumpaan sederhana itu segera berubah menjadi rasa bahwa orang sedang memasuki sebuah rumah besar yang bernama persaudaraan.
Sejak 14 September 2026, Catholic Center—Pusat Pembinaan Umat Pematangsiantar, Keuskupan Agung Medan—menjadi rumah bagi ratusan kisah yang datang dari berbagai penjuru Indonesia, kisah dengan aksen yang berbeda, pengalaman pastoral yang beragam, kebiasaan yang tidak sama, tetapi dipertemukan oleh panggilan yang satu, dan rumah itu menjadi semakin hangat karena hadir para uskup yang datang sebagai tanda kebapaan Gereja, hadir Ketua KWI, hadir Nunsius Apostolik sebagai Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, hadir Uskup Ruteng, Uskup Agung Semarang, Uskup Padang, Uskup Malang, Uskup Agung Palembang, Uskup Sibolga, Uskup Maumere, Uskup Tanjungkarang, Uskup Sanggau, dan para gembala lainnya yang kehadirannya tidak hanya memenuhi deretan kursi di bagian depan tetapi sungguh menghadirkan rasa bahwa para imam tidak berjalan sendiri.
Mereka duduk, mendengar, menunggu, tersenyum dan menyertai, dan justru dalam kesederhanaan itulah kebapaan memperoleh maknanya yang paling indah, sebab seorang bapa tidak selalu harus banyak berbicara untuk meneguhkan anak-anaknya, kadang kehadirannya saja sudah menjadi kalimat panjang yang mengatakan bahwa engkau ditemani, engkau didengarkan, engkau adalah bagian dari keluarga ini, dan pengalaman itu sungguh terasa ketika para uskup duduk di depan, mengikuti dinamika dengan penuh perhatian, tidak tergesa meninggalkan ruang, seakan-akan hendak menegaskan bahwa persaudaraan antara uskup dan imam bukanlah konsep yang indah dalam dokumen melainkan kenyataan yang dapat dilihat, dirasakan dan disentuh.
Hari pertama dimulai dari altar, sebab memang begitulah seharusnya sebuah perjalanan imamat dimulai, dari Ekaristi yang menjadi sumber dan puncak, dan sesudah perayaan pembukaan serta pembukaan resmi Munas oleh Ketua KWI, persaudaraan pun mulai merajut dirinya sendiri tanpa perlu banyak instruksi, orang mulai saling mengenal, mulai bertanya dari keuskupan mana, mulai menceritakan paroki, umat, medan pelayanan, suka dan duka panggilan, dan cerita-cerita itu terus meluas dari ruang sidang menuju meja makan, dari meja makan menuju lorong penginapan, dari lorong menuju kamar-kamar yang pintunya dibiarkan terbuka, sampai akhirnya sebuah pertanyaan kecil seperti “Romo dari mana?” dapat berubah menjadi percakapan panjang tentang hidup dan pelayanan.
Meja makan pun tidak lagi hanya menjadi tempat menyantap makanan, melainkan ruang berbagi cerita, lorong penginapan tidak lagi sekadar jalur menuju kamar tetapi berubah menjadi ruang perjumpaan, dan malam tidak segera berakhir ketika acara resmi selesai karena justru setelah itu cerita menjadi lebih cair, tawa menjadi lebih lepas, pengalaman pastoral dibagikan tanpa podium, dan pada saat-saat seperti itu terasa bahwa persaudaraan sering kali tidak lahir dari agenda formal tetapi dari kesediaan sederhana untuk duduk sedikit lebih lama dan mendengarkan cerita orang lain.
Hari kedua menghadirkan warna yang berbeda karena menjadi hari studi, ada Mgr. Pius Riana Prapdi, ada Ibu Lisa, ada Romo Agung dan Romo Joseph, dan pembicaraan bergerak menuju dunia digital, dunia yang semakin dekat dengan pelayanan Gereja tetapi juga semakin rumit karena menghadirkan begitu banyak pertanyaan tentang bagaimana menjadi rasul tanpa kehilangan kedalaman, bagaimana hadir di ruang digital tanpa larut dalam kegaduhan, bagaimana menggunakan teknologi tanpa membiarkan diri dikuasai olehnya, dan bagaimana seorang imam tetap menjadi saksi Injil ketika ukuran dunia digital sering kali ditentukan oleh kecepatan, popularitas dan jumlah perhatian.
Sharing dan pleno berlangsung terbuka, problem-problem seputar imam diosesan dalam hubungannya dengan dunia digital disampaikan apa adanya, ada pengalaman yang berbeda, ada pandangan yang tidak selalu sama, ada persoalan yang belum selesai, tetapi semuanya dapat dibicarakan dengan semangat saudara, dan mungkin justru itulah keindahan persaudaraan, bahwa orang boleh berbeda tanpa menjadi jauh, boleh berdebat tanpa kehilangan hormat, boleh menyampaikan kritik tanpa memutus hubungan, sehingga suasana terasa fair dan cair, serius tetapi tidak kaku, kritis tetapi tetap manusiawi.
Di sela-sela seluruh dinamika itu, panitia bekerja luar biasa, seksi acara bergerak dari satu agenda ke agenda yang lain, seksi konsumsi memastikan meja makan tetap menjadi tempat sukacita, orang-orang bekerja di belakang layar, menata ruang, memastikan suara terdengar, mengatur perjalanan dan menyediakan kebutuhan peserta, dan dari situ tampak bahwa kasih Allah sering kali bekerja tidak melalui hal-hal spektakuler tetapi melalui tangan-tangan yang bersedia berkorban tanpa harus selalu disebut namanya, sebab terkadang kasih hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: makanan yang tersedia tepat waktu, kamar yang sudah disiapkan, kendaraan yang datang ketika dibutuhkan, mikrofon yang menyala, atau senyum seseorang yang berkata, “Silakan, Romo.”
Malam harinya persaudaraan menemukan cara lain untuk berbicara, ada karaoke dengan suara-suara emas yang muncul dari berbagai sudut Indonesia, ada nada yang begitu tepat dan ada pula nada yang mungkin lebih banyak diselamatkan oleh keberanian daripada ketepatan, tetapi semua orang tertawa, ada MOP Papua yang membawa-bawa nama Tete dan Nenek hingga ruangan pecah oleh gelak, ada yang menikmati bir, ada yang memilih tuak, ada yang bermain remi, ada yang hanya duduk sambil bercerita, dan semuanya terasa begitu sederhana, sebab persaudaraan memang sering kali tidak membutuhkan teori yang rumit, ia cukup membutuhkan meja, kursi, waktu, cerita dan hati yang terbuka.
Horas berjumpa dengan Mejua-jua, Jua-jua berjumpa dengan Ahoe, sapaan-sapaan daerah yang seharusnya menandai perbedaan justru berubah menjadi bahasa persaudaraan, dan di tengah tawa itu terasa bahwa Indonesia memang terlalu luas untuk disatukan oleh satu logat tetapi selalu cukup dekat untuk dipertemukan oleh sukacita, sebab ketika orang sudah tertawa bersama, jarak geografis tiba-tiba kehilangan kekuatannya.
Hari ketiga membawa peserta memasuki dinamika organisasi, ada laporan, ada evaluasi perjalanan kepengurusan Unio Indonesia periode 2023–2026, ada catatan, ada harapan, lalu berlangsung pemilihan pengurus baru, dan dalam seluruh proses itu RD. Florens Maxi Un Bria kembali terpilih menjadi Ketua Unio Indonesia, sebuah kepercayaan yang tentu tidak lahir dalam satu malam tetapi tumbuh dari perjalanan, komitmen, kesetiaan dan kemampuan untuk terus menempatkan persaudaraan sebagai nada dasar pelayanan.
Keterpilihan itu kemudian memperoleh peneguhan dalam Ekaristi di Paroki Santo Joseph Pematangsiantar, perayaan dipimpin oleh Uskup Agung Medan Mgr. Kornelius Sipayung dan dihadiri Nunsius Apostolik, sementara pelantikan pengurus dilakukan oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Agung Semarang, dan sekali lagi altar menjadi tempat di mana organisasi dikembalikan kepada panggilan, seolah Gereja ingin mengingatkan bahwa jabatan boleh berganti, struktur boleh diperbarui, orang datang dan pergi, tetapi sumber pelayanan tetap sama, yakni Kristus yang memanggil, mengutus dan mempersatukan.
Pastor paroki, para pastor dan umat di sana menyambut dengan luar biasa, dan sesudah perayaan resmi selesai, perayaan persaudaraan masih terus berlangsung, ada Mgr. Sipri Hormat, ada Mgr. Vitus Rubianto Solichin, ada Mgr. Kornelius yang setia menemani, dan sekali lagi terasa bahwa kehadiran seorang uskup menjadi indah ketika ia tidak diletakkan pada jarak, melainkan berada di tengah-tengah imam-imamnya sebagai bapa yang bersaudara.
Hari keempat menjadi hari ketika ruang sidang ditukar dengan luas cakrawala, ketika mikrofon digantikan oleh suara air, ketika kursi-kursi pleno ditinggalkan untuk perjalanan yang lebih panjang, dan rombongan bertolak dari Pematangsiantar menuju Danau Toba lalu menyeberang menuju Pulau Samosir, menuju Sibea-bea, menuju tempat di mana Patung Kristus berdiri menjulang dan alam seolah sengaja membuka dirinya selebar-lebarnya untuk menyambut para peziarah.
Perjalanan dimulai dari Danau Toba yang tenang, luas, sejuk, seperti selembar halaman besar yang belum selesai ditulis, dan ketika mata memandang hamparan air itu, ingatan perlahan membawa hati kepada Danau Galilea, danau yang menyimpan cerita perahu, badai, ketakutan, panggilan dan mukjizat, dan tentu Danau Toba bukan Galilea, tetapi ketenangannya membuat hati mudah teringat pada Galilea, sebab keduanya seperti memiliki kemampuan untuk membuat manusia berhenti sejenak dan mendengar sesuatu yang lebih dalam daripada suara dirinya sendiri.
Danau Toba menyapa tanpa mengancam, ia tidak datang dengan keganasan seperti kisah pengejaran di Laut Teberau, melainkan dengan keteduhan yang membuat orang ingin berlama-lama menatapnya, dan di atas kapal penyeberangan canda kembali pecah, kamera mulai bekerja tanpa lelah, banyak foto diabadikan, anak-anak muda mempersembahkan tarian Batak, dan perjalanan ditemani oleh pemandu lokal yang membuat perjalanan itu tidak sekadar menjadi pengalaman melihat tetapi juga pengalaman mengetahui, sebab melihat tanpa memahami hanya menghasilkan gambar, sedangkan melihat sambil belajar menghasilkan kenangan.
Melintasi luasnya Danau Toba, rombongan kemudian bergerak menuju Patung Kristus Sibea-bea dan pemandangan di sana sungguh luar biasa, Danau Toba terbentang dari berbagai sisi tanpa banyak hambatan, bukit-bukit menjadi bingkai, langit seolah turun lebih dekat, dan manusia berdiri di tengah semuanya dalam keadaan kecil tetapi bahagia, sementara kamera bekerja tanpa jeda, seakan-akan baterainya tertelan oleh pemandangan karena foto demi foto terus diambil tanpa mengenal berhenti.
Namun di balik sukacita traveling itu, ada kedalaman lain yang perlahan muncul, ada doa yang dibisikkan, ada lilin yang ditancapkan, ada harapan yang dibubungkan tinggi, dan cahaya lilin yang kecil itu tiba-tiba menjadi gambaran yang indah tentang imamat, bahwa seorang imam mungkin tidak selalu harus menjadi cahaya yang menyilaukan tetapi ia harus menjadi cahaya yang setia, tidak perlu lebih terang daripada matahari tetapi cukup tetap menyala ketika gemerlap dunia menawarkan cahaya yang cepat membesar tetapi juga cepat padam.
Di hadapan Kristus yang menjulang, doa itu menjadi sederhana tetapi dalam: semoga imamat para imam tetap bercahaya, bukan karena popularitas, bukan karena nama yang dikenal, bukan karena tepuk tangan, tetapi karena Kristus masih terlihat di dalamnya, semoga cahaya panggilan tetap lebih kuat daripada godaan duniawi yang terkadang tampak terang tetapi membakar, dan semoga setiap imam tetap sanggup menjadi tanda bahwa di tengah dunia yang begitu sibuk mencari perhatian, masih ada orang yang memilih untuk setia.
Ziarah itu kemudian bermuara kembali pada Ekaristi di Gereja Paroki Pangururan, gereja dengan sentuhan kultur yang menjulang indah seolah doa-doa manusia sedang mengetuk pintu hati Allah, dan perayaan dipimpin oleh Mgr. Vitus, Uskup Padang, sehingga sekali lagi perjalanan menegaskan dirinya: melihat alam itu indah, mengenal kultur itu berharga, tetapi seluruh perjalanan menemukan puncaknya ketika manusia kembali ke altar.
Sesudah Ekaristi, rombongan dijamu dengan penuh kasih, makanan disiapkan, sapaan diberikan, senyum dibagikan, dan cinta sekali lagi menunjukkan bahwa ia tidak mengenal batas jalur darat maupun air, ia dapat menyeberangi danau, melewati bukit, memasuki gereja, tinggal di meja makan, lalu mengikuti manusia pulang sebagai kenangan.
Sepanjang jalan, kuburan-kuburan keluarga di pinggir jalan menghadirkan renungan lain, seolah mereka yang telah pergi masih tinggal dekat dengan perjalanan keluarga yang hidup, dan dari sana muncul sebuah nilai yang sederhana tetapi kuat, bahwa kebersamaan dalam kultur Batak seakan tidak berhenti ketika kematian datang, orang hidup bersama, berjuang bersama, dan bahkan setelah ajal menjemput, mereka masih ditempatkan berdekatan, seolah hendak mengatakan bahwa persaudaraan dan kekeluargaan lebih panjang daripada usia manusia.
Perjalanan berlanjut menuju Huta Siallagan, tempat rumah-rumah adat berdiri anggun, atap-atapnya menjulang berpasangan seperti doa yang tidak cukup hanya dinaikkan sekali tetapi mesti diulang dua kali agar lebih kuat, dan di sana mata kembali dibuat sibuk, telinga mendengar banyak kisah, suara penjual suvenir menyapa, tangan menyentuh berbagai kerajinan, lalu tanpa banyak perdebatan jari-jari bergerak menuju dompet, beberapa lembar rupiah berpindah tangan dan cenderamata masuk ke dalam tas, sebab kadang hati mengingat tetapi tangan tetap merasa perlu membawa pulang bukti.
Perjalanan kembali pun menghadirkan adegan kecil yang sulit dilupakan ketika di sekitar pelabuhan tampak anak-anak mendayung di dekat kapal sambil berteriak meminta uang logam dan uang kertas dilemparkan, mereka tertawa, mendayung, bergerak begitu dekat dengan kapal tanpa banyak rasa takut, dan pemandangan itu menghadirkan kesan tentang keberanian yang spontan, keberanian yang seperti datang bahkan sebelum rasa takut sempat dipikirkan, dan entah mengapa orang kemudian tersenyum sambil berkata dalam hati: ya, mungkin begitulah Batak.
Selama seluruh dinamika berlangsung, selalu ada suara-suara emas yang muncul dengan berbagai nada dasar dan lagu yang dinamis, ada canda yang tiba-tiba meledak, ada cerita yang terasa tidak pernah habis, ada Horas yang diteriakkan dari satu sudut, ada Mejua-jua dari sudut yang lain, ada Ahoe yang menjawab, dan perlahan orang sadar bahwa Munas ini sesungguhnya bukan hanya perjalanan organisasi melainkan perjalanan manusia, perjalanan imam-imam yang datang membawa identitasnya masing-masing lalu pulang membawa lebih banyak nama di dalam ingatan.
Empat hari terasa singkat tetapi dipenuhi begitu banyak cerita, ada altar, ada diskusi, ada laporan, ada pemilihan, ada doa, ada lagu, ada MOP, ada kopi, ada tuak, ada kartu remi, ada jalan darat, ada perjalanan air, ada Danau Toba yang tenang, ada Sibea-bea yang menjulang, ada kultur yang berbicara, ada umat yang menyambut, ada panitia yang bekerja, ada para uskup yang setia menemani, dan semua itu seperti menyatu dalam satu kesimpulan sederhana: Siantar sungguh indah.
Indahnya bahkan terasa dobel-dobel, seperti Siborong-borong, Sibea-bea, Sibutar-butar dan berbagai nama Batak yang terdengar seperti mengulang diri sendiri tetapi justru menyimpan daya tariknya, dan mungkin yang dobel-dobel itu memang cocok menjadi gambaran tentang keramahan tanah ini, bahwa yang baik tidak diberikan hanya sekali, sapaan harus dobel, jamuan dobel, tawa dobel, cerita dobel, perhatian dobel, dan kenangan pun akhirnya dobel.
Munas XV Unio Indonesia karena itu tidak berhenti sebagai sidang, laporan dan pemilihan pengurus, melainkan menjadi kisah tentang manusia-manusia yang dipertemukan Tuhan, tentang imam-imam yang belajar kembali menjadi saudara, tentang uskup yang hadir sebagai bapa, tentang umat yang membuka rumah, tentang alam yang mengajari manusia untuk diam, tentang kultur yang memperlihatkan bahwa perbedaan tidak harus memisahkan, dan tentang Ekaristi yang berkali-kali mengingatkan bahwa sejauh apa pun perjalanan ditempuh, semua jalan akhirnya mesti kembali kepada Kristus.
Itulah sepenggal kisah yang dilukis dengan hati yang tulus, dan memang tidak seluruhnya dapat ditulis sebab beberapa kenangan terlalu indah untuk dipenjarakan dalam kata, sebagiannya hanya dapat tinggal sebagai getaran kecil di dalam hati, muncul kembali ketika mendengar kata Siantar, Danau Toba, Samosir, Sibea-bea, Horas, atau ketika sebuah foto lama tiba-tiba terbuka di layar telepon dan membawa ingatan kembali kepada tawa, altar, kapal, bukit dan wajah-wajah yang pernah menjadi saudara selama beberapa hari.
Dan mungkin cinta memang sesederhana itu, melihat dengan tulus, mengenang tanpa berlebihan, lalu melukis semuanya apa adanya, sehingga ketika akhirnya perjalanan harus selesai, satu hal tetap tinggal: kami datang sebagai peserta, berjalan sebagai sesama imam, tertawa sebagai sahabat, berdoa sebagai saudara, lalu pulang dengan keyakinan bahwa di salah satu sudut hati kami, Siantar sudah menjadi rumah.

