UnioKeuskupanAtambua.com – Catatan Refleksi Camp UNIO I Keuskupan Atambua – Tanjung Bastian, 28-30 Juli 2026 – oleh Rm. Christian Kali, Pr

Tema Camp Unio KA Tahun 2026, “Berakar dalam Kristus, Bertumbuh Bersama untuk Bersaksi”. Tema ini digagas bersama oleh panitia pada pertemuan di Emaus pada tanggal 16 Juli 2026. Tema ini memuat dimensi teologis yang khas dan spiritualitas Santo Paulus seperti yang termuat dalam Kolose 2:6-7 tentang kepenuhan hidup dalam Kristus. Paulus menulis demikian; “Kamu telah menerima Kristus Yesus Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia, hendaklah kamu tetap bertambah teguh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dalam syukur”. Tema ini memuat tiga kata inti, yaitu; Berakar (Radix), Bertumbuh (Crescere) dan Bersaksi (Missio) yang kemudian menjadi triade semangat dalam seluruh dinamika Camp Unio.

Dalam dinamika Camp Unio; panitia secara jeli dan istimewa menekankan hari pertama sebagai HARI BERAKAR – menekankan dimensi vertikal, relasi personal imam dengan Yesus Kristus. Kegiatan -kegiatan diatur untuk anggota UNIO berakar dalam Kristus sebagai Imam Agung, dengan jenis kegiatan diantaranya; Ibadat dan Doa Rosario di Gua Maria Temkuna, Aksi Laudato Si’ (Gua Maria – Pasar Ikan Wini), masuk Pintu UNIO, Api Unggun dan Refleksi.

Hari kedua disebut HARI BERTUMBUH – menekan dimensi komunal, persekutuan dan pendewasaan bersama dalam Roh Kudus. Kegiatan di hari kedua diisi dengan Games (Outbound) di dalam area dan di luar area camp. Di dalam area Camp terdapat lima game yang berfokus makna pada Kerjasama, Kepercayaan, Komunikasi, dan Kegembiraan Bersama. Sedangkan di luar Camp terdapat 6 game; diantaranya; sepatu perahu, bola terbang, bambu nyali, golgota dan gloria (penancapan salib). Games ini dirancang dengan makna psikologis dan pastoral yang kompleks. Pada intinya, Game 7–12 menggambarkan perjalanan iman dan panggilan imam: dari kebersamaan dalam badai, kendali diri, keberanian, solidaritas, pengorbanan, hingga puncak penyerahan diri bagi Tuhan dan Gereja dalam komitmen panggilan. Semua bermuara pada Unio—kesatuan dengan Allah dan persaudaraan imam. Pada akhir hari bertumbuh, setelah turun dari Golgota, imam membentuk lingkaran penuh dan dipandu untuk menglami relaksasi hipnoterapi yang menenangkan dan mendamaikan.

Hari ketiga adalah HARI BERSAKSI. Hari ini diisi dengan Ekaristi. Ketua UNIO KA, Rm. Goris Dudy, Pr menyampikan homil yang sungguh berkesan. Ia mengatakan demikian; “kita adalah tanah liat yang senantiasa dibentuk oleh Allah, bukan sekali untuk selamanya, melainkan terus-menerus dalam suka dan duka pelayanan; kita adalah saudara dalam satu presbiterium yang dipanggil untuk saling menopang, menjaga persaudaraan, dan memikul salib bersama; kita adalah penjala manusia yang menebarkan pukat Injil tanpa pilih kasih, merangkul semua umat dengan hati Kristus; dan kita adalah tuan rumah yang mengeluarkan harta lama dan baru, setia pada tradisi Gereja namun kreatif dalam pewartaan zaman ini. Maka pulanglah dari Camp ini sebagai imam yang diperbarui: lebih sabar, rendah hati, tekun berdoa, mencintai Ekaristi, umat, saudara imam, dan Kristus sendiri. Dengan demikian, Camp Unio tidak berakhir di sini, melainkan terus hidup dalam setiap altar, sakramen, dan pelayanan kita, sebagai tanda bahwa kita tetap dibentuk, tetap bersaudara, dan tetap diutus.

Imam, Lihatlah Dirimu!
Dinamika Camp UNIO 2026 yang berlangsung di Tanjung Bastian sejak 28-30 juli 2028 membuka persepktif lain yakni melihat keutuhan diri dan imamat. Camp UNIO adalah ajakan untuk melihat dan mendengar, (Mat 13:9). Dan lagi, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat 13:16). Camp ini telah menjadi ruang di mana para imam diajak membuka mata hati untuk melihat karya Allah dalam persaudaraan, dan membuka telinga batin untuk mendengar suara Roh Kudus yang terus membentuk, menguatkan, dan mengutus.

Ajakan paling emosional adalah untuk melihat diri; Imam, Lihatlah dirimu, lihatlah Imamatmu. Ada dua lapisan yang tersimpan di dalam ajakan ini; yakni pemeriksaan bathin(examen conscientiae) dan pemeriksaan panggilan (examen vocationis). Melihat diri yang dibalut jubah untuk memahami keagungan dan kerapuhan. Menyadari sukacita dan kesepian. Menjadi kurban dan korban. Ada gambaran realitis yang mesti diterima sebagai imago dei sekaligus peziarah (homo viator) yang rapuh.

Melihat diri adalah juga pengakuan bahwa kelemahan itu menyertai hidup manusia. Jangan takut pada kelemahan (Pope Leo XIV). Kelemahan membawa potensi baru sekaligus medan untuk rekonsiliasi. Saya teringat pula pesan Paus Fransiskus; “kekudusan tidak berarti tanpa kelemahan, melainkan justru dalam pengakuan kelemahan itulah rahmat bekerja paling nyata” (Gaudete et Exultate).

Melihat diri adalah undangan Yesus kepada imamnya; “datanglah kepadaKu kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Melihat imamat dan mendengarkan imam; adalah upaya memikul kuk kasih dan belajar menjadi lemah lembut dan rendah hati seperti Yesus (Mat 11;28). Sebab, terkadang “rutinitas memberi bentuk sempurna bagi kelemahan”. Mungkin ini menjadi kritik tajam terhadap risiko spiritual imam: kelelahan pastoral (burnout) dan kekosongan ritual. Rutinitas sakramental bisa menjadi topeng bagi keletihan batin. Karena itu, “melihat diri” adalah cara mengembalikan sakramentalitas pada relasi personal dengan Kristus, bukan sekadar fungsi liturgis.
Api Cinta Itu Tetap Menyala
Yesus yang kami kenal, Ia yang berkeliling dan berbuat baik,..(Kis.10-38). Pengakuan Petrus ini membentuk memori imamat; tentang diri imam yang tak kenal lelah melayani, mengunjungi keluarga, melayani sakramen dan sabda. Ia habis seperti lilin, membagi cahaya bagi sesama. Dalam situasi tertentu imam menemukan diri seperti; “batang gelagah yang patah dan sumbu yang pudar nyalanya”. Harapan memudar dan daya ragi melemah. Namun, Tuhan tidak memadamkan; Tuhan tidak mematahkan. Ia justru menegakkan, membaharui, menyalakan dengan Api Roh Kudus-Nya. Api yang menghangatkan perjumpaan dan kerinduan. Resonansi Kitab Nabi Yesasa 42:31 ini menjadi saat belas Kasih Allah yang membaharui Imamat.

Di malam hari, seraya menikmati desiran angin laut Pantai Utara yang lembut menyentuh telapak tangan, kami mamandang nyala api unggun yang diambil dari Lilin Paskah. Mendengarkan Refleksi psiko spiritual dari Pastor Daniel Makbalin, seperti menyalakan rumah hati di musim dingin. Refleksi ini menunjukkan bahwa api cinta imamat tidak pernah benar-benar padam; ia hanya perlu dinyalakan kembali melalui perjumpaan dan persaudaraan. UNIO adalah rumah hati, rumah persaudaraan dan pelayanan dan Api KASIH Kristus selalu menentukan arah.

Tumbuh Bersama
Untuk tumbuh, benih itu harus ditaburkan. Untuk berbuah banyak, akar tumbuh harus dirawat. Tumbuh bersama adalah tentang menyediakan tanah hati yang subur. Sering kali individualisme spiritual merasuki hidup imam. Ada isolasi dimana imam bekerja sendiri, menghadapi beban sendiri dan menderita sendiri. Ada kondisi tanah hati imam yang mesti diolah oleh Roh Kudus untuk kasih dan persaudaraan hidup sejati.

Games Outbound mempekuat cara bertumbuh. Melihat Imam Muda menggenggam tangan Imam Tua, saling mengarahkan, menuntun langkah, menyatukan persepektif, berlangkah bersama dengan tujuan yang sama. Di sini juga ada suksesi dan solidaritas generasi. Ada aliran kasih dan pengalaman yang disalurkan. Imam Tua memberi kesaksiaan, imam muda memberi semangat baru.
Bersaksi
Camp UNIO membaharui COMMUNIO. Komunio adalah kehendak Ilahi; Aku mau supaya mereka Bersatu (Yoh 17;21). Ini adalah doa Yesus bagi kesatuan para Murid-Nya. Kesatuan sebagai prasyarat untuk kesaksian. Bagaimana Gereja bisa menjadi tanda kesatuan bagi dunia, jika imam tidak bersatu? Kesaksiaan adalah buah dari communio yang mendalam. Seperti cabang yang berbuah karena melekat pada Pokok Anggur (Yoh;15;5), imam bersaksi karena pertama-tama hidup dalam komuni dengan Yesus dan sesame Imam.

Kegiatan Camp Unio ini menjadi catatan spiritual tentang menjadi imam di era kini. Setiap kali mengenakan jubah, setiap kali naik ke altar dan menjadi Kurban, imam diundang untuk Kembali melihat diri, apakah saya masih berakar pada Kristus, apakah saya masih tumbuh bersama, apakah kesaksian saya masih autentik?

Api Cinta Kasih Tuhan tetap menyala. Yang diperlukan adalah keberanian untuk melihat diri, kerendahan hati untuk tumbuh bersama, dan kepercayaan untuk bersaksi bahwa Rahmat Tuhan menopang kelemahanku.

Terima kasih, UNIO Keuskupan Atambua. Sampai Jumpa di Camp UNIO II Tahun 2028.
Editor – Yudel Neno

