Kajian Kultur – UnioKeuskupanAtambua.com –  Kure dan Kontribusi Kulturalnya bagi Perayaan Paskah Katolik – oleh Romo Yudel Neno

Tulisan ini dibuat berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai media yang telah mempublikasikan tentang Kure, khususnya dari laman Tourism Information Center NTT, Wikipedia Indonesia, Kompas, Liputan6, dan Repository Universitas Timor. Karena itu, tulisan ini disusun dengan pendekatan kontekstual dan pendekatan eksposisif-argumentatif, yakni dengan memaparkan data, menempatkannya dalam konteks sosial-budaya dan religius masyarakat, lalu menegaskan maknanya secara analitis.

Budaya sebagai Jiwa Masyarakat

Budaya bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan dari masa lalu, melainkan cara suatu masyarakat memahami hidup, mengatur relasi, membangun identitas, dan memberi makna pada pengalaman bersama. Dalam budaya, suatu komunitas menyimpan memori kolektif, nilai-nilai, simbol-simbol, serta orientasi hidup yang dianggap penting. Oleh karena itu, budaya dapat disebut sebagai jiwa masyarakat, sebab melalui budaya suatu kelompok tidak hanya “hidup bersama,” tetapi juga “mengerti dirinya sendiri.” Dalam kerangka ini, tradisi Kure tidak dapat dipahami hanya sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan sebagai salah satu ekspresi terdalam dari cara masyarakat Kote, Noemuti, menghayati iman, sejarah, dan kebersamaan mereka. (1) (Kompas Regional)

Secara kontekstual, budaya selalu bertumbuh dari sejarah konkret suatu masyarakat. Ia lahir dari pengalaman panjang, dari pergulatan hidup, dari perjumpaan dengan kekuatan-kekuatan sosial dan religius yang membentuk identitas bersama. Kure muncul dari perjumpaan antara tradisi lokal masyarakat Timor dengan iman Katolik yang dibawa oleh Portugis dan para imam Dominikan. Karena itu, Kure bukan sekadar adat yang kemudian “dipakai” oleh agama, melainkan suatu bentuk kehidupan budaya yang justru menjadi ruang inkulturasi iman. (2) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Kure sebagai Budaya yang Hidup: Apa Itu Kure?

Kure adalah ritual menyongsong perayaan Paskah yang hidup di Kampung Kote, Kelurahan Noemuti, Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dalam berbagai publikasi, Kure dijelaskan sebagai tradisi doa bergilir dari satu rumah adat ke rumah adat lainnya pada rangkaian Trihari Suci dan Paskah. Karena itu, Kure merupakan perpaduan antara unsur religius dan unsur budaya yang dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. (3) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Mengenai makna katanya, sumber-sumber yang tersedia menunjukkan beberapa penjelasan. Tourism Information Center NTT menyebut Kure sebagai istilah yang dimaknai sebagai “berdoa sambil mengunjungi keluarga-keluarga yang pada zaman dahulu menerima agama Katolik.” Kompas juga memuat penjelasan serupa. Di sisi lain, Liputan6 mencatat bahwa dalam beberapa penjelasan Kure diduga berkaitan dengan kata Portugis currere yang berarti berjalan atau menjelajah, dan cura yang berkaitan dengan ibadah atau pemeliharaan rohani. Kompas bahkan memuat penjelasan lain dari penjaga rumah adat yang mengaitkannya dengan kata cure sebagai tugas pemeliharaan rohani umat. Dari keragaman ini dapat ditegaskan bahwa walaupun etimologinya belum sepenuhnya tunggal dalam sumber populer, inti makna Kure tetap jelas, yaitu praktik berjalan, mengunjungi, berdoa, dan memelihara iman dalam kebersamaan komunal. (4) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Kure disebut sebagai budaya yang hidup karena ia tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Tradisi ini masih dipraktikkan, diwariskan, dan dipertahankan hingga sekarang. Penelitian Universitas Timor bahkan menegaskan bahwa Kure merupakan warisan budaya yang terus dilestarikan oleh masyarakat Suku Noemuti dan memerlukan dokumentasi serta sosialisasi agar tetap bertahan dalam perubahan zaman. (5) (Repository Universitas Timor)

c. Historisitas Kure

Historisitas Kure tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya agama Katolik ke wilayah Noemuti. Tourism Information Center NTT dan Kompas menjelaskan bahwa ketika Kote dikuasai Portugis, para imam Katolik Dominikan datang memperkenalkan dan menyebarkan agama Katolik kepada penduduk setempat. Salah satu peninggalan penting dari masa itu ialah penempatan patung-patung kudus dan benda-benda devosional pada rumah-rumah adat atau Ume Mnasi. Dari praktik inilah lahir tradisi doa bergilir dari rumah adat ke Ume Uis Neno dalam rangka Trihari Suci Paskah. (6) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Liputan6 menambahkan bahwa Kure dipandang sebagai ritual adat-budaya-religi yang diwariskan sejak masa penjajahan dahulu dan terus dirayakan oleh masyarakat setempat. Artinya, Kure berdiri di atas dua lapisan sejarah sekaligus: pertama, lapisan misioner-kolonial yang membawa agama Katolik; kedua, lapisan lokal yang menerima, mengolah, dan memadukan iman itu ke dalam struktur simbolik masyarakat sendiri. Dengan demikian, Kure bukan hasil penolakan terhadap budaya lokal, tetapi hasil perjumpaan kreatif antara Injil dan kebudayaan Timor. (7) (Liputan6)

Dari sudut argumentatif, justru di sinilah kekuatan Kure. Tradisi ini bertahan bukan hanya karena tua usianya, tetapi karena mampu memberi makna yang terus hidup bagi masyarakat. Ia menghubungkan sejarah penerimaan Katolik dengan rumah adat, kekerabatan, penghormatan terhadap leluhur, dan perayaan iman komunal. Karena itu, Kure harus dipahami sebagai sebuah tradisi inkulturatif yang menegaskan bahwa iman Katolik dapat berakar dalam budaya tanpa kehilangan identitas teologisnya. (8) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Tahapan Kure

Berdasarkan laporan Kompas dan Tourism Information Center NTT, Kure berlangsung selama lima hari, dari hari Rabu sampai hari Senin, dengan pusat penghayatan pada Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Aleluya, dan Hari Raya Paskah.

Tahap pertama adalah ritual pengosongan diri yang disebut Boe Nekaf atau Trebluman, yang dilaksanakan pada hari Rabu sebelum Trihari Suci. Dalam ritus ini semua rumpun suku berkumpul untuk berdoa, merenung, menyesali dosa, dan memohon agar rumah serta komunitas dibersihkan dari pengaruh roh jahat. Ritus ini disertai penyalaan 13 lilin yang melambangkan Yesus dan dua belas rasul. (9) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Tahap berikutnya adalah Taniu Uis Neno pada Kamis Putih, yakni ritual memandikan atau membersihkan benda-benda suci. Dua utusan dari tiap rumah adat bersama seorang tetua adat berkumpul di gereja, berdoa, mengambil air, lalu berarak ke sungai. Air itu dibawa kembali ke gereja untuk diberkati, lalu digunakan membersihkan patung, salib, dan benda devosional di rumah adat. Air bekas pembersihan itu selanjutnya dipakai untuk membasuh wajah, tangan, dan kaki sebagai lambang pembersihan diri dan pembawa damai. (10) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Masih pada Kamis Putih, masyarakat juga mengumpulkan dan mempersembahkan buah-buahan serta sirih pinang, yang dikenal sebagai Bua Loet dan Bua Pa. Setelah misa Kamis Putih dan Jumat Agung, umat secara berkelompok melakukan Kure dari satu Ume Uis Neno ke Ume Uis Neno lainnya. Sebagian sumber menyebut terdapat 27 Ume Mnasi yang melaksanakan Kure. Dalam bagian lain ada penyebutan yang tidak sepenuhnya seragam dalam publikasi populer, namun inti praktiknya tetap sama, yaitu ziarah doa bergilir antar-rumah adat dalam rangkaian Paskah. (11) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Pada Sabtu Aleluya, masyarakat merayakan misa dan kemudian menari Bonet secara massal sebagai ungkapan syukur atas kebangkitan Yesus Kristus. Pada Minggu Paskah, kembali diadakan misa dan pesta rakyat dengan tarian gong, bidut, dan kemeriahan lainnya. Rangkaian ini berakhir pada hari Senin, yang disebut Paskah Kedua, ketika hiasan, buah-buahan, air, dan minyak yang dipakai dalam ritus dikumpulkan dan dihanyutkan ke kali. Tindakan ini dimaknai sebagai pelepasan dosa karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Kristus dan menjadi manusia baru, yang disebut Sef Mau. (12) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Kure dan Kontribusi Kulturalnya bagi Perayaan Paskah

Kontribusi pertama Kure bagi perayaan Paskah Katolik ialah bahwa ia memperluas makna Paskah dari sekadar perayaan liturgis menjadi pengalaman budaya yang menyentuh seluruh kehidupan masyarakat. Dalam Kure, Paskah tidak hanya dirayakan di gereja, tetapi juga di rumah adat, dalam relasi kekerabatan, dalam hasil panen, dalam perjalanan doa, dan dalam kebersamaan warga kampung. Dengan demikian, misteri Paskah sungguh-sungguh dihadirkan dalam dunia hidup umat. (13) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Kontribusi kedua ialah penguatan solidaritas sosial dan memori kolektif. Liputan6 menegaskan bahwa tradisi ini membantu masyarakat mengingat leluhur yang telah meninggal. Persembahan buah-buahan, sirih pinang, dan makan bersama juga menunjukkan rasa syukur, penghormatan, dan keterikatan antarsesama. Dengan demikian, Kure berfungsi bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang memperkuat persatuan masyarakat. (14) (Liputan6)

Kontribusi ketiga ialah pelestarian budaya lokal. Penelitian Universitas Timor menekankan pentingnya pelestarian budaya Kure melalui kesadaran bersama, dokumentasi, dan sosialisasi. Ini berarti Kure bukan sekadar tradisi lama yang dipertontonkan, tetapi warisan budaya yang masih memiliki daya hidup dan relevansi bagi generasi sekarang. Dalam konteks perubahan zaman yang cepat, Kure menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat tetap bertahan justru karena ia dipelihara dalam horizon iman yang hidup. (15) (Repository Universitas Timor)

Kontribusi keempat ialah transformasi simbolik dari kekerasan menuju damai. Kompas dan laman Tourism Information Center NTT mencatat bahwa alat-alat perang dalam simbolik lokal diganti dengan buah-buahan, tebu sebagai senapan, jeruk sebagai peluru, dan sagu sebagai mesiu; setelah doa, buah-buahan itu dibagikan sebagai tanda damai. Makna simbolik ini sangat mendalam: Paskah adalah kemenangan kasih atas kebencian, kehidupan atas kematian, dan damai atas permusuhan. Kure menerjemahkan pesan teologis itu ke dalam bahasa budaya masyarakat Timor. (16) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Gambar diambil pada 30 Maret 2026 oleh Ibu Nina di Kote – Noemuti

Kure Merupakan Budaya yang Berciri Kuat Teologi Katolik

Kure merupakan budaya yang berciri kuat teologi Katolik karena seluruh rangkaian ritusnya berporos pada misteri Paskah Kristus. Ia dimulai dari pengosongan diri dan penyesalan dosa, dilanjutkan dengan pembersihan benda-benda suci, ziarah doa pada Kamis Putih dan Jumat Agung, lalu bergerak menuju sukacita kebangkitan pada Sabtu Aleluya dan Minggu Paskah, sebelum akhirnya ditutup dengan simbol manusia baru pada Paskah Kedua. Struktur ini memperlihatkan bahwa Kure bukan hanya tradisi adat, tetapi sebuah ritus budaya yang menghayati secara mendalam dinamika sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. (17) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Ciri Katolik Kure juga tampak dari simbol-simbol yang dipakai dalam keseluruhan prosesi, seperti gereja, altar, lilin yang melambangkan Yesus dan dua belas rasul, patung-patung kudus, salib, benda-benda devosional, air yang diberkati oleh pastor, serta keterkaitannya yang langsung dengan Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Aleluya, dan Hari Raya Paskah. Semua ini menunjukkan bahwa Kure bukan ritus adat yang terpisah dari iman Katolik, tetapi ritus budaya yang telah menyerap dan mengekspresikan spiritualitas Katolik dalam bentuk lokal. (18) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Lebih dari itu, Kure memperlihatkan logika inkarnasional yang sangat khas dalam teologi Katolik: rahmat tidak mematikan budaya, melainkan menyucikan, mengangkat, dan mengarahkannya kepada Kristus. Rumah adat menjadi tempat devosi, hasil panen menjadi persembahan syukur, sungai menjadi bagian dari simbol pemurnian, dan tarian menjadi ekspresi sukacita kebangkitan. Karena itu, Kure dapat dibaca sebagai contoh konkret inkulturasi iman Katolik dalam budaya lokal Timor. (19) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Penutup

Kure menunjukkan bahwa Paskah Katolik dapat dirayakan bukan hanya sebagai ritus liturgis resmi, tetapi juga sebagai pengalaman budaya yang menyentuh seluruh kehidupan masyarakat. Dalam Kure, iman Katolik bertemu dengan rumah adat, hasil panen, relasi kekerabatan, penghormatan terhadap leluhur, ziarah doa, tarian syukur, dan simbol pembaruan hidup. Karena itu, Kure layak dipahami bukan semata-mata sebagai tradisi unik dari Noemuti, tetapi sebagai warisan budaya religius yang memperlihatkan suburnya perjumpaan antara Injil dan kebudayaan lokal. Di sana Paskah tidak berhenti sebagai peringatan, tetapi menjadi gerak hidup bersama: dari pengosongan diri menuju manusia baru dalam Kristus. (20) (Pusat Informasi Pariwisata NTT)

Bodynote / Catatan Sumber

(1) Lihat uraian tentang Kure sebagai tradisi masyarakat Kote, Noemuti, dalam laporan Kompas dan Tourism Information Center NTT. (2) Tentang perjumpaan budaya lokal dengan iman Katolik yang dibawa Portugis dan imam Dominikan. (3) Definisi Kure sebagai ritual menyongsong Paskah di Kote, Noemuti. (4) Tentang ragam penjelasan etimologis kata Kure. (5) Tentang pelestarian budaya Kure oleh masyarakat Suku Noemuti. (6) Tentang masuknya Portugis dan imam Dominikan serta penempatan benda devosional di rumah adat. (7) Tentang Kure sebagai ritual adat-budaya-religi yang diwariskan turun-temurun. (8) Kesimpulan analitis penulis berdasarkan data historis dari sumber-sumber tersebut. (9) Tahap Boe Nekaf atau Trebluman dan simbol 13 lilin. (10) Tahap Taniu Uis Neno dan penggunaan air untuk membersihkan benda-benda suci. (11) Tahap Bua Loet, Bua Pa, dan ziarah Kure antar-Ume Uis Neno. (12) Sabtu Aleluya, Minggu Paskah, dan Paskah Kedua sebagai penutup rangkaian Kure. (13) Kontribusi Kure dalam memperluas pengalaman Paskah ke seluruh kehidupan masyarakat. (14) Kontribusi Kure bagi ingatan leluhur dan solidaritas sosial. (15) Kontribusi Kure bagi pelestarian budaya lokal. (16) Transformasi simbol perang menjadi tanda damai. (17) Kure sebagai ritus budaya yang berporos pada misteri Paskah Kristus. (18) Simbol-simbol Katolik dalam keseluruhan ritus Kure. (19) Kure sebagai bentuk inkulturasi iman Katolik dalam budaya lokal. (20) Kesimpulan penulis berdasarkan sintesis seluruh sumber yang digunakan.

Sumber-Sumber

(1) Tourism Information Center NTT, “Prosesi Kure, Tradisi Paskah Tradisional di Kabupaten Timor Tengah Utara.” – Pusat Informasi Pariwisata NTT (2) Wikipedia Bahasa Indonesia, “Kure.” – Wikipedia (3) Kompas.com, “Mengintip Prosesi Kure, Tradisi Paskah Tradisional di NTT.” – Kompas Regional (4) Repository Universitas Timor, “Pelestarian Budaya Kure oleh Masyarakat Suku Noemuti.” – Repository Universitas Timor (5) Liputan6.com, “Kure, Ritual Menyongsong Paskah di NTT.” – Liputan6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *