UnioKeuskupanAtambua.com – Ziarah Harapan di Antara Rahmat dan Luka Kodrati – Oleh: Romo Yudel Neno – Mereview Pikiran Uskup Atambua

Rekoleksi Kategorial di Dekenat Mena bersama Mgr. Dominikus Saku, Pr (Uskup Keuskupan Atambua) menghadirkan satu refleksi iman yang berpijak kuat pada realitas kodrati manusia sekaligus terbuka pada daya rahmat Allah. Tema “Ziarah Harapan” tidak diletakkan sebagai jargon spiritual, melainkan sebagai proses eksistensial yang konkret. Manusia dipahami pertama-tama sebagai makhluk berpikir dan makhluk berhati nurani. Namun Uskup dengan jujur mencatat bahwa akal budi sering tersesat dalam kekeliruan, sementara hati nurani kerap menumpul karena kompromi dengan dosa dan kebiasaan buruk.

Dari perspektif filosofis, kerapuhan akal dan hati nurani menyingkapkan keterbatasan kodrat manusia. Ziarah iman tidak pernah berlangsung di medan yang steril, melainkan di tengah medan retak dan luka. Karena itu Uskup mengangkat realitas luka dalam sejarah Gereja sendiri melalui skisma Timur–Barat sebagai simbol bahwa bahkan dalam tubuh Gereja pun terdapat keretakan. Gereja yang berziarah bukan komunitas tanpa cacat, melainkan persekutuan yang disadari terus membutuhkan pertobatan dan pemulihan.

Dalam terang Kitab Suci, Uskup mengajak umat belajar dari kisah Yakub (Kej. 32:3–21). Yakub adalah figur manusia yang bergulat dengan ketakutan, masa lalu, dan ancaman masa depan. Di tengah pergulatannya itu, Allah tidak pernah meninggalkannya. Dari sini ditegaskan bahwa kesetiaan Allah melampaui ketidakstabilan manusia. Ziarah iman justru menemukan maknanya ketika manusia menyadari bahwa ia rapuh, tetapi tidak pernah ditinggalkan.

Abraham kemudian dihadirkan sebagai prototipe peziarah iman. Ia melintasi banyak tempat, jarak, dan tantangan tanpa pernah kehilangan daya dorong rohaninya. Iman Abraham sering kali menembus batas rasionalitas manusia, bahkan bertentangan dengan logika umum. Namun justru dalam ketaatan yang “tidak masuk akal” itulah iman menjadi murni. Ziarah iman, menurut logika ini, bukan hasil perhitungan yang nyaman, melainkan keberanian melangkah dalam ketidakpastian bersama Allah.

Uskup menegaskan bahwa perjalanan hidup boleh sulit, tetapi manusia tidak boleh menjadikan kesulitan sebagai pusat orientasi. Dunia memang diatur oleh silang sengketa, konflik kepentingan, dan pertarungan kuasa. Namun dalam situasi seperti itu, manusia beriman justru dipanggil untuk semakin bersandar pada Allah. Kesulitan tidak boleh menjadi berhala baru yang melumpuhkan harapan, melainkan harus menjadi medan pemurnian iman.

Transformasi Yakub menjadi Israel dipahami sebagai simbol perubahan eksistensial manusia. Pergulatan menghasilkan identitas baru. Maka kelemahan tidak boleh dipelihara sebagai alasan pembenaran diri, tetapi harus diperangi dan dirombak agar rahmat Allah memperoleh ruang kerja. Rahmat tidak bekerja secara otomatis dan magis, melainkan menuntut keterbukaan kehendak manusia kepada kebaikan. Di titik ini terlihat dengan jelas sinergi antara rahmat ilahi dan tanggung jawab moral manusia.

Dimensi spiritualitas dipadatkan Uskup dalam empat kata kunci: admit, commit, submit, dan surrender. Keempatnya merupakan tangga pertumbuhan iman yang menuntut kejujuran, kesetiaan, kepatuhan, dan penyerahan total. Menyembah Allah harus dilakukan dalam kebenaran, dan kebenaran itu sendiri adalah kebenaran pengorbanan kasih. Karena itu Yesus diam di hadapan Pilatus saat ditanya tentang kebenaran, sebab kebenaran itu sedang dihadirkan sebagai kasih yang siap disalibkan.

Dalam kritik terhadap zaman modern, Uskup menyingkap ilusi berbagai ideologi sesat: indiferentisme iman dan moral, materialisme, konsumerisme, hedonisme, kapitalisme, apatisme, feodalisme, nepotisme, hingga anarkisme. Semua ideologi ini pada hakikatnya adalah upaya menyelamatkan hidup tanpa Allah. Akibatnya ialah relasi menjadi dingin, nurani kehilangan kepekaan, dan hidup terjebak dalam logika memiliki serta menikmati tanpa makna transenden.

Uskup juga mengkritik keras dominasi media sosial yang menciptakan pertarungan antara dunia nyata dan dunia virtual. Banyak orang tampak berani di dunia maya, tetapi mati kutu di dunia nyata. Relasi menjadi rapuh, arah hidup kabur, dan identitas terpecah. Dalam bidang mentalitas muncul sindrom STEL (Selera Tinggi Ekonomi Lemah), dalam kultur berkembang komunalisme konsumtif, dan dalam struktur menguat feodalisme. Bahkan kebiasaan kumpul keluarga yang meninggalkan utang berkepanjangan serta praktik tim sukses politik yang nepotistik dipandang sebagai racun sosial yang merusak jaringan relasi.

Seluruh refleksi ini kemudian dipertautkan dengan semangat Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia V: sinodalitas sebagai cara hidup Gereja, doa dan sakramen sebagai sumber daya rohani, pendidikan sebagai jalan keluar dari pengangguran, pembaruan keluarga, pendampingan OMK, perhatian pada migran, kebijaksanaan bermedsos dan melawan judi, kesejahteraan yang menghadapi kemiskinan dan kebodohan, serta pertobatan ekologis. Dengan demikian, “Ziarah Harapan” tampil sebagai proyek iman yang integral—mengubah cara berpikir, cara merasa, dan cara hidup—agar manusia berani melangkah bersama Allah di tengah rahmat yang bekerja dalam kerapuhan kodrati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *