Oelolok, UnioKeuskupanAtambua.com – Mgr. Dominikus Saku, Uskup Keuskupan Atambua, menegaskan bahwa evaluasi pastoral (Evaperca) di lingkungan keuskupannya dinilai semakin mengalami kemerosotan. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan pra-Evaperca yang digelar di Oeololok Training Center (OTC), Selasa (7/10/2025).

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 15.30 Wita ini dihadiri oleh seluruh pimpinan pastoral di Keuskupan Atambua, termasuk Vikjen, para deken, pastor paroki, pastor pembantu, serta staf Pusat Pastoral (Puspas). Pertemuan ini bertujuan mempersiapkan evaluasi pastoral tahunan yang direncanakan akan dilaksanakan secara hybrid, dengan hari pertama secara tatap muka dan hari kedua via Zoom.

Apa yang Menjadi Pokok Sorotan?

Dalam paparannya sebagai pembicara utama, Mgr. Dominikus Saku menguraikan beberapa titik kritis yang menyebabkan kemunduran Evaperca. Pertama, *gaya kepemimpinan pastoral yang masih sangat “Top Down” dan “Pastorsentris”*. Hal ini, menurutnya, menghambat pengembangan partisipasi umat yang optimal sehingga Gereja belum sungguh-sungguh menjadi gereja umat.

Kedua, *kurangnya implementasi nyata* dari hasil Musyawarah Pastoral (Muspas) Keuskupan Atambua 2023. Rumusan visi-misi-strategi pastoral dinilai belum dijabarkan dalam program strategis yang konkret.

Ketiga, *porsi pastoral kategorial yang kecil* dan belum memenuhi syarat efektif-efisien sehingga belum memiliki dampak signifikan. Uskup meminta para pastor untuk melihat lebih jeli koordinasi pastoral, baik secara horizontal maupun vertikal.

“Kita tidak memiliki *sense of crisis*,” tegas Uskup Domi, seperti yang dikutip dari notulensi pertemuan.

Mengapa Persiapan Evaperca Perlu Diperbaiki?

Untuk menjawab tantangan tersebut, pertemuan ini menekankan pentingnya persiapan Evaperca yang lebih komprehensif. Beberapa dokumen yang harus disiapkan antara lain Kalender Kerja Keuskupan, notulensi persidangan, hasil Evaperca tahun sebelumnya, serta catatan kebijakan pastoral.

Selain itu, evaluasi harus mempertimbangkan keadaan riil di tingkat basis (KUB, Lingkungan, Stasi) serta pengaruh faktor eksternal seperti krisis ekologi, krisis keuangan global, dan apatisme sosial.

Siapa Saja yang Terlibat dan Bagaimana Format Evaluasinya?

Peserta yang hadir merupakan para penanggung jawab pastoral langsung di lapangan. Mereka akan menggunakan format evaluasi terstruktur yang mencakup penilaian terhadap jenis kegiatan yang terlaksana dan yang tidak, dilengkapi dengan narasi, dokumentasi, dan refleksi.

Dalam sesi tanya jawab, terutama terkait format Evaperca tahun 2025, Uskup Domi memberikan penegasan bahwa roh pelayanan harus lebih bernyala daripada sekadar mengikuti format tertulis, dan perlu dibuat pertanyaan evaluasi yang lebih terbuka.

Ke Mana Arah Pembenahan Ditunjukkan?

Pertemuan ini merangkum bahwa laporan Evaperca ke depan harus mampu menangkap tiga aspek utama: *kesetiaan dalam pastoral rutin* yang membangun ortodoksi, *pelayanan pastoral yang relevan* yang memberikan pemaknaan, serta *pelaksanaan pastoral fokus* yang menghasilkan dampak dan inovasi yang kritis. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya menjadi laporan administratif, tetapi benar-benar menjadi alat untuk membangkitkan kembali gairah kegembalaan di Keuskupan Atambua.

By: RD. Filto Bowe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *