Waikabubak, 20 Juni 2025 – UnioKeuskupanAtambua.com – Kegiatan On GoingFormation (OGF) Imam Projo Regio Nusra secara resmi ditutup dalam upacara meriah yang diawali dengan Perayaan Ekaristi di Paroki Santo Petrus dan Paulus Waikabubak. Misa penutupan dipimpin oleh Ketua Unio Keuskupan Weetebula, Rm. Jack Lodo Mema, Pr, dan dihadiri ratusan umat serta para imam dari delapan keuskupan se-Nusa Tenggara.

Dalam homilinya, Ketua Unio Indonesia, RD. Florens Maxi Un Bria, mengangkat tema “Harta Sejati” dengan menyoroti keteladanan iman dari Rm. Mario Yohanes Boen—imam diosesan pertama asal Keuskupan Pangkal Pinang—yang tetap teguh dalam iman meskipun menghadapi masa penjajahan. Ia menekankan bahwa dalam situasi pastoral yang menantang, ketahanan iman yang berpusat pada Yesus Kristus adalah kekuatan utama setiap imam.

“Selama OGF, para imam mengalami perjumpaan yang membangun. Seperti Rasul Paulus, kita harus terus merawat harta sejati yakni Yesus Kristus,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya sinodalitas dan kebersamaan dalam pelayanan Gereja di masa kini.

Usai Misa, prosesi penutupan ditandai dengan penabuhan gong oleh Pater Agustinus Malo Bulu, CSsR—Vikjen Keuskupan Weetebula—bersama Ketua Unio Indonesia. Para imam peserta disambut secara meriah dengan tarian adat dan pengalungan, mencerminkan kekayaan budaya lokal dan semangat penerimaan umat.

Dalam sambutannya, Pater Vikjen menyampaikan terima kasih atas nama Uskup Weetebula kepada seluruh peserta dan panitia. Ia menegaskan bahwa formasi imam tak pernah berakhir. “Formasi adalah jalan seumur hidup. OGF memang selesai, tetapi pembentukan kita sebagai imam terus berlanjut,” ujarnya.
Pater Agustinus juga menekankan bahwa spiritualitas imamat yang berpusat pada Kristus harus menjadi pusat semua pembinaan. Ia mengutip almarhum Mgr. Petrus Turang yang menegaskan pentingnya spiritualitas Yesus Kristus dalam seluruh dimensi panggilan imamat. “Bapak Uskup Weetebula pun selalu mengingatkan akan hal ini. Dan dalam setiap perjumpaan, itu harus selalu digaungkan,” katanya.
Dalam nuansa kebersamaan yang hangat, Pater Vikjen juga menyampaikan apresiasi kepada umat dan para etnis di Paroki Waikabubak yang telah membuka hati dan rumah bagi para imam peserta OGF. “Kain Sumba yang dikenakan bukan sekadar simbol budaya, tetapi lambang ikatan dan berkat. Semoga menjadi pengingat persaudaraan di Regio Nusra,” tuturnya.
Mengutip pesan Mgr. Darius Nggawa semasa hidupnya, Pater Vikjen menutup sambutannya dengan ajakan agar para imam selalu Tahu Tuhan, Tahu Budaya, dan Tahu Diri. Ia pun memberikan restu bagi para imam yang akan kembali ke keuskupan masing-masing, membawa bekal rohani, persaudaraan, dan semangat baru untuk melayani umat.

Sebelumnya, Ketua Unio Indonesia juga menyampaikan bahwa dari 38 keuskupan di Indonesia, terdapat 2.637 imam diosesan yang berkarya di tengah umat. Ia menegaskan pentingnya semangat pelayanan yang ditopang oleh semboyan: Satu Hari Aneka Wajah, Satu Imamat Aneka Perutusan, Satu Unio Aneka Peran.
Pastor Paroki Waikabubak yang juga Sekretaris Unio Keuskupan Weetebula, Rm. Nus Nggajo, Pr, turut memberikan sambutan. Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak dan berharap bahwa pengalaman OGF menjadi berkat bagi umat Paroki yang memiliki 20 stasi dan terus bertumbuh dalam iman.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, para imam Unio Regio Nusra membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi juga semangat baru untuk melayani umat dalam terang Kristus dan semangat sinodalitas yang hidup.
Laporan : Rm. Yudel Neno, Pr

