Refleksi KatekesisMenemukan Pendekatan Pastoral antara Relasi Fungsional dan Relasi Personal – oleh Romo Yudel Neno, Pr.

Kehidupan Gereja selalu bergerak di antara dua kutub yang tidak dapat dihindari, yakni relasi fungsional dan relasi personal. Relasi fungsional dibutuhkan agar pelayanan berjalan tertib, terstruktur, dan terukur. Namun ketika relasi pastoral berhenti pada fungsi dan peran administratif, pelayanan kehilangan daya sentuhnya. Pada titik itulah muncul kebutuhan untuk menegaskan kembali relasi personal sebagai jantung pelayanan Gereja.

Relasi personal bukan metafora sentimental yang mengandalkan kedekatan emosional semata. Relasi personal merupakan relasi teologis yang berakar pada misteri Tritunggal dan diwujudkan secara konkret dalam Kristologi. Allah yang diimani bukan Allah yang jauh dan impersonal, melainkan Allah yang membangun persekutuan. Relasi Bapa, Putra, dan Roh Kudus menjadi paradigma dasar bagaimana relasi pastoral seharusnya dijalankan.

Gambaran tentang Gembala yang Baik dalam Injil Yohanes 10 tidak dapat dibaca sebagai simbol romantis yang menenangkan perasaan. Teks tersebut memiliki dimensi kritikal sebagaimana seruan para nabi Perjanjian Lama yang menegur para gembala Israel yang menyalahgunakan kuasa, seperti dalam Kitab Yehezkiel 34. Kritik kenabian itu menggarisbawahi bahwa kepemimpinan yang hanya fungsional tanpa kedalaman relasi akan berubah menjadi dominasi. Kepemimpinan yang personal justru bercorak partisipatif dan membangun kebersamaan.

Dalam relasi personal, pemimpin tidak sekadar menjalankan tugas, melainkan membangun pengenalan yang timbal balik. Injil menggambarkan bahwa gembala mengenal domba-domba dengan namanya masing-masing dan domba mengenal gembala melalui suaranya. Pengenalan semacam itu tidak lahir dari laporan administratif atau struktur organisasi, melainkan dari kedekatan yang berkelanjutan. Relasi yang demikian melahirkan rasa aman, kepercayaan, dan keberanian untuk bertumbuh bersama.

Dimensi personal juga tampak ketika Yesus tidak berhenti pada aspek katekesis atau pengajaran normatif. Pengajaran-Nya mencapai kepenuhannya dalam pemberian diri. Salib menjadi bentuk konkret dari relasi personal yang total. Pelayanan tidak lagi sekadar penyampaian pesan, melainkan partisipasi dalam kurban kasih.

Uskup Fulton Sheen pernah menegaskan bahwa imam adalah kurban dan ia tidak menjadi imam untuk dirinya sendiri. Gagasan tersebut menegaskan bahwa relasi personal menuntut pengorbanan diri, bukan sekadar kehadiran struktural.

Pendekatan pastoral yang hanya fungsional cenderung berorientasi pada program, agenda, dan hasil yang terukur. Pendekatan personal menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki nama, sejarah, luka, dan harapan. Keseimbangan antara keduanya menjadi kebutuhan mendesak. Struktur tanpa relasi akan kering, sementara relasi tanpa struktur berisiko kehilangan arah. Sintesis keduanya melahirkan pelayanan yang tertib sekaligus menyentuh hati.

Spirit misioner dalam amanat Kristus untuk pergi, mengajar, dan membaptis menegaskan bahwa relasi personal tidak bersifat tertutup. Relasi yang mendalam dengan Kristus mendorong gerak keluar menuju yang lain. Pergi berarti hadir dalam realitas konkret umat. Mengajar berarti membimbing dalam kebenaran. Membaptis berarti mengantar orang masuk dalam persekutuan ilahi. Seluruh dinamika itu tidak mungkin dijalankan dengan pola relasi yang impersonal.

Kepemimpinan pastoral yang berakar pada relasi personal menolak model dominatif. Model partisipatif lebih mencerminkan pola Kristus yang berjalan bersama para murid, mendengarkan mereka, dan membentuk mereka dalam proses. Pendekatan ini menumbuhkan komunitas relasional, bukan sekadar komunitas organisatoris. Gereja kemudian tampil sebagai persekutuan yang saling mengenal dan saling memikul tanggung jawab.

Tantangan zaman digital dan budaya instan sering menggiring pelayanan pada pola komunikasi cepat dan dangkal. Situasi tersebut menuntut ketegasan untuk kembali pada relasi personal yang otentik. Kehadiran yang sungguh, dialog yang jujur, dan keberanian untuk berbagi hidup menjadi fondasi pastoral yang relevan bagi konteks kekinian.

Pendekatan pastoral yang menemukan titik temu antara relasi fungsional dan relasi personal akan melahirkan Gereja yang hidup. Fungsi tetap berjalan dengan baik, namun relasi menjadi jiwa yang menggerakkan semuanya.

Pada akhirnya, teladan Gembala yang Baik mengingatkan bahwa pelayanan sejati bukan tentang menjalankan peran, melainkan tentang memberi diri. Dalam pemberian diri itulah Gereja menemukan identitasnya sebagai komunitas yang dibangun atas kasih dan pengorbanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *