Weliman – Malaka – Keuskupan Atambua – Para Imam Projo Keuskupan Atambua menggelar pertemuan penguatan persaudaraan pada Kamis, 20 November 2025 di rumah Bapak Adrian Bria Seran, wilayah Paroki Kleseleon, sehari sebelum pentahbisan delapan imam baru yang akan ditahbiskan pada 21 November 2025 di Pusat Dekenat oleh Uskup Atambua, Mgr. Dominikus Saku, Pr.

Pertemuan yang dihadiri 46 imam serta sejumlah orang tua pemerhati karya pastoral ini dipandu oleh Rm. Yude Neno, Pr, Sekretaris II Unio Keuskupan Atambua, dan menjadi ruang evaluasi, refleksi, serta penguatan komitmen persaudaraan imamat dalam semangat sinodalitas.

Sebagai tuan rumah, Bapak Adrian Bria Seran menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaannya karena untuk pertama kalinya rumahnya dikunjungi begitu banyak imam. Ia menegaskan bahwa kunjungan para imam membawa rahmat tersendiri bagi keluarga, bahkan menjadi catatan khusus dalam agenda keluarga. Ia juga menambahkan bahwa tempat istirahat telah disiapkan, sebab menurutnya, ketika para imam beristirahat di rumah, rahmat itu bukan saja hadir, tetapi juga “menetap.”

Romo Leo Nahas, Pr, Pastor Paroki Kleseleon, memberikan apresiasi kepada Tuan Rumah dan Pengurus Unio yang telah memilih wilayah Paroki Kleseleon sebagai lokasi pertemuan. Menurutnya, momentum ini menjadi istimewa karena terjadi tepat pada H-1 tahbisan para imam baru, sebuah catatan sejarah bagi paroki dan seluruh wilayah dekenat.

Sementara itu, Ketua Unio Keuskupan Atambua, Rm. Goris Dudy, Pr, menegaskan bahwa kehadiran para imam mencerminkan semangat sinodalitas—semangat berjalan bersama. Ia menggarisbawahi bahwa meluangkan waktu untuk hadir merupakan bentuk nyata dari komitmen sinodalitas, meskipun pertemuan berlangsung singkat. Yang terpenting, kata beliau, adalah menjaga kualitas kehadiran demi masa depan gerak Unio Keuskupan Atambua.

Materi utama dibawakan oleh Romo Sipri Tes Mau, yang menekankan bahwa persaudaraan merupakan kehendak Allah sendiri sebagaimana dinyatakan dalam Mazmur 133:1, “Sungguh, alangkah baik dan indahnya apabila sesama saudara diam bersama dan hidup rukun.” Ia mengingatkan bahwa persaudaraan membutuhkan keseimbangan antara keseriusan dan kesantaian: persaudaraan tanpa keseriusan akan jatuh dalam relativisme, sementara persaudaraan tanpa kesantaian akan melahirkan beban psikologis.

Dalam sesi sharing, Rm. Moses Olin, Pr, yang akan merayakan Pancawindu Imamat pada tahun 2027, membagikan pengalamannya tentang prinsip imamat: Sersan – Serius tapi Santai. Ia menegaskan bahwa panggilan imamat penuh suka dan duka, dan karenanya diperlukan kebersamaan. “Kalau kita sendiri, kita akan merasa berat. Kita harus saling mengunjungi dan mendukung,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga relasi sehat dengan uskup, menghargai pastor rekan, serta mendukung program Unio, termasuk pertemuan rutin dan pendampingan berkelanjutan. Ia memberikan apresiasi khusus kepada keluarga Bria Seran sebagai keluarga pemerhati imam.

Sharing berikutnya datang dari Bapak Eddy Bria Seran, yang mengajak para imam kembali kepada hidup sederhana. Ia mengingatkan bahwa “jauh dari Pastor, kita akan dekat dengan lawannya,” seraya memberikan apresiasi terhadap peningkatan kualitas pelayanan pastoral di wilayah Keuskupan Atambua. Ia juga menegaskan pentingnya saling menghargai, sikap mendengarkan, literasi finansial, serta kepastian finansial bagi kebutuhan para imam melalui badan-badan pastoral seperti DPP Paroki. Ia menutup dengan catatan kritis dan dorongan bagi umat untuk lebih sering mengunjungi para imam.

Setelah rangkaian sambutan dan sesi sharing, dinamika pertemuan berlanjut pada pemaparan agenda internal Unio. Romo Eman Siki, Pr, selaku Wakil Ketua Unio, memandu jalannya sesi ini dengan memaparkan Program Kerja Unio Keuskupan Atambua Tahun 2026. Program tersebut dirumuskan sebagai upaya memperkuat persaudaraan imamat dan memastikan kesinambungan pelayanan di seluruh wilayah keuskupan.

Dalam paparannya, Romo Eman menjelaskan bahwa pada tahun 2026 Unio akan tetap menggelar pertemuan umum di awal tahun dan pertemuan H-1 tahbisan, sebagaimana telah menjadi tradisi untuk membangun rasa kebersamaan di momen-momen penting. Ia menegaskan bahwa persaudaraan Unio di tingkat dekenat juga akan diperkuat melalui pertemuan rutin yang dirancang lebih terarah, sehingga para imam di wilayah-wilayah dapat saling mendukung dalam pelayanan sehari-hari.

Selain itu, Unio juga menetapkan Rekoleksi Prapaskah sebagai agenda wajib yang bertujuan memperdalam spiritualitas para imam menjelang pekan suci. Program OGF (Paket I, II, III, dan IV) tetap dilanjutkan sebagai bagian dari pengembangan diri dan penguatan hidup imamat. Unio juga merencanakan Camp Unio, yang untuk pertama kalinya akan digagas secara mandiri dengan rencana awal pelaksanaan di Oeluan.

Pada kesempatan itu, Romo Eman menegaskan bahwa penerimaan anggota baru Unio tetap dilakukan saat tahbisan imam, mengikuti tradisi imamat Projo Keuskupan Atambua. Menutup pemaparannya, ia menjelaskan struktur sistem anggaran Unio, yang disusun melalui tiga komponen pokok: dana solidaritas, dana abadi Unindo dan keuskupan, serta iuran tahunan para imam.

Bagian keuangan kemudian dipresentasikan oleh Rm. Edo Oeleu, Pr, selaku bendahara. Ia menjelaskan perkembangan keuangan Unio dan menanggapi berbagai masukan dari peserta.

Sementara itu, dalam sesi diskusi, Romo Pius Nahak, Pr, mengajukan usulan agar aksi panggilan diadakan secara khusus di paroki-paroki yang memasuki usia 25 tahun, sebagai bentuk syukur sekaligus regenerasi panggilan imamat. Sementara itu, Rm. Filto mempertanyakan kepastian data keuangan Unindo, karena terdapat sejumlah imam yang sudah menyetor dana namun belum tercatat dalam daftar resmi, sehingga perlu dilakukan pembaruan dan verifikasi data.

Agenda-agenda ini menjadi salah satu fokus penting dalam pertemuan, sekaligus penanda bahwa Unio Keuskupan Atambua terus menjaga arah geraknya dan memastikan bahwa persaudaraan imamat berjalan selaras dengan tantangan pastoral dan kebutuhan nyata Gereja lokal.

Pertemuan malam ini berlangsung hangat, reflektif, sekaligus inspiratif. Selain menjadi ruang persiapan batin menjelang pentahbisan delapan imam baru, pertemuan ini juga meneguhkan komitmen kolektif untuk menjaga, merawat, dan menghidupkan persaudaraan imamat dalam semangat sinodalitas, sebagaimana dikehendaki Gereja dan Allah sendiri.

Laporan oleh Yudel Neno, Pr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *