Bicara di Hadapan Peserta OGF, RD. Kanis Pen Tegaskan: Imam Diosesan Peziarah Harapan Sejati yang Sehati

Weetebula, 19 Juni 2025 – UnioKeuskupanAtambua.com – Dalam sesi ketiga kegiatan On Going Formation (OGF) Imam Projo Regio Nusa Tenggara yang berlangsung di Aula GSG Katedral Keuskupan Weetebula, RD. Kanis Pen tampil sebagai narasumber dan menegaskan pentingnya spiritualitas seorang imam Diosesan sebagai seorang peziarah harapan—pribadi yang sejati dan sehati dalam melayani.

Mengawali materinya, RD. Kanis mengutip pernyataan Prof. Mark Rotseart, SJ: “Tanpa spiritualitas, tidak ada kehidupan imamat.” Ia menegaskan bahwa Yesus sendiri adalah model sejati imam Diosesan, jika dilihat dari zonasi karya-Nya yang terbatas hanya di Galilea dan Yerusalem, tetapi penuh makna. Dalam terang pemikiran Paus Benediktus XVI, ia menekankan bahwa idola imam Diosesan bukanlah orang biasa, melainkan Yesus Kristus sendiri.

RD. Kanis juga mengutip jawaban Paus Fransiskus ketika ditanya soal spiritualitas imam Diosesan dalam sebuah perjumpaan dengan para imam dan religius: rasa memiliki terhadap Keuskupan. Dari sinilah muncul pemahaman bahwa spiritualitas imam Diosesan dimulai dari pengalaman “masuk baru tahu”—yakni keterlibatan yang dibangun setelah seorang imam benar-benar hadir di tengah umat dan wilayah perutusannya.

Menurut RD. Kanis, persaudaraan imamiah bukan hanya soal relasi sesama imam, tetapi menyangkut hubungan utuh antara imam, Uskup, dan umat. Ia lalu mengangkat pemikiran Santo Gregorius Agung yang mengatakan bahwa kesetiaan pada pekerjaan membuat seseorang lupa akan dirinya sendiri. Dalam semangat itu, Ignatius Kardinal Suharyo menambahkan bahwa pelayanan seorang imam menuntut keterlibatan penuh perhatian, kompetensi profesional, devosi, dan sikap aktif-kontemplatif, termasuk perhatian pada diri sendiri sebagai bentuk self-love yang sehat.

Salah satu penekanan menarik dari RD. Kanis adalah pentingnya peran teman sekelas dalam perjalanan imamat. Baginya, imamat bukanlah sekadar jabatan, tetapi tindakan yang nyata dalam pelayanan profesional. Maka, menjadi imam Diosesan berarti menjadi pribadi yang membangkitkan imajinasi spiritual, menanamkan cinta pada pelayanan, dan setia dalam langkah sebagai peziarah harapan.

Mengutip Paus Fransiskus, ia menekankan bahwa menjadi peziarah harapan berarti berjalan bersama sebagai komunitas yang bersatu, bukan hanya dalam bentuk ziarah fisik, tetapi lebih dalam: sebuah pengalaman spiritual yang membawa transformasi dan transfigurasi. Di titik ini, kritik menjadi bagian integral dari dinamika spiritualitas. Harapan seorang imam, tegas RD. Kanis, harus melampaui emosi sesaat; ia butuh dukungan personal, komunal, sosial, dan spiritual, serta penguasaan diri dalam self-efficacy.

Ia memaparkan berbagai bentuk harapan: spiritual, emosional, fisik, material, sosial, hingga personal. Dalam konteks religius, harapan mencakup keselamatan, kebahagiaan, dan bimbingan ilahi. Namun ia mengingatkan: “Jangan sampai dalam usaha membahagiakan orang lain, kita lupa membahagiakan diri sendiri.”

Menurut RD. Kanis, menjadi Imam Unio berarti menjadi Peziarah Harapan yang sejati dan sehati. Kesetiaan bukan hanya soal kapasitas intelektual, melainkan ketulusan hati yang melayani. Untuk mencapainya, diperlukan keyakinan, kerja keras, komitmen, dan disiplin. Imam perlu membekali diri dengan leadership skill, management skill, serta kemampuan komunikasi yang persuasif.

RD. Kanis juga memberi peringatan tentang tantangan besar yang harus diwaspadai dalam hidup imamat, seperti klerikalisme—yakni cara pandang elitis dan eksklusif terhadap sakramen Imamat yang menjauh dari pelayanan dan cenderung memupuk kekuasaan. “Kita ini imam umat, bukan imam negara,” tegasnya. Ia juga menyoroti bahaya hirarkisme, di mana persaudaraan tergerus oleh dominasi struktural.

Mengutip Richard Gaillardetz, ia mengingatkan tentang bahaya over-identitas klerikal, kekuasaan tanpa akuntabilitas, dan sikap impunitas. P. Jim Keenan, SJ, menambahkan perlunya kesadaran akan budaya kerapuhan (culture of vulnerability), sementara R. Hans Zollner, SJ, mendorong reformasi dalam pendidikan calon imam dengan penekanan pada pelayanan yang tulus dan pemahaman teologis yang sehat.

Diskusi kelompok yang melibatkan tujuh tim menghasilkan refleksi penting, antara lain: urgensi membangun rasa memiliki dalam Unio, keharusan partisipasi aktif dalam keanggotaan, serta pendekatan strategis membongkar masalah melalui locus, tempus, modus, actus, dan kronos. Salah satu metafora kuat yang digunakan RD. Kanis adalah: “Piring kotor harus dibersihkan, bukan disingkirkan. Orang yang bersalah dibina, bukan dihina. Jika satu kancing bajumu salah pasang, maka semuanya akan berantakan.”

Materi ini menjadi inspirasi kuat bagi para imam muda peserta OGF Regio Nusra dari delapan keuskupan (Ende, Kupang, Atambua, Larantuka, Ruteng, Labuan Bajo, Denpasar, dan Weetebula), untuk terus bertumbuh dalam identitas sebagai imam Diosesan: sejati, sehati, dan senantiasa menjadi peziarah harapan di tengah umat yang dilayani.

 

oleh Rm. Yudel Neno, Pr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *